Kegembiraan yang Berguguran

Kala itu rumah yang menyita perhatian mereka sedang diterpa terik, begitu juga kulit sawo matang mereka. Dari pengamatannya berhari-hari, itu adalah waktu di mana rumah tersebut tak berpenghuni. Sang pemilik sedang mengais rezeki, pulangnya sore hari.  Mereka bertiga telah bersiap di depan pagar besi.

Berdasarkan instruksi Alina, Alan pun mengawali agresi mereka dengan memasuki wilayah rumah untuk memastikan tak ada sesiapa di dalamnya. Pagar itu memang terkunci, namun tanpa gembok. Mudah bagi Alan untuk melakukannya, bahkan jika ia harus memanjatnya. Ia berkeliling mengetuk pintu maupun jendela yang ada untuk tambah meyakinkan mereka. Beberapa kali bahasa ritmis permisi Alan itu tak mendapat respons dari dalam rumah. Benar-benar kosong!

Situasi menguntungkan. Isapan jempol Alan ke arah Alina dan Aldo yang sedari tadi melirik dari balik jeruji pagar menjadi pertanda untuk menuju tahap selanjutnya. Menyadari gestur Alan, Aldo pun menyusul masuk memberikan dukungan. Beberapa pohon yang ukurannya hampir sama di pekarangan kemudian meneduhkan mereka. Lain halnya dengan Alina, berperan sebagai pemberi rasa aman, ia rela berpanas-panas tanpa perlindungan. Ia bertahan di tanah luar hak pemilik rumah.

Dari sekian jumlah, ada satu pohon dengan ranting-ranting yang terlihat kuat seakan tumbuh menyamping, meneduhkan puluhan loteng rumah. Akses masuk rumah yang tidak mudah karena pintu dan jendela terkunci rapat, menjadikan pohon itu laksana jalan menuju apa yang ingin mereka tuju. Namun bagian bawah pohon itu terasa licin bagi Alan, bahkan di jangkauan loncatannya.

Melihat Alan kesulitan, Aldo pun mendekat ke pohon dengan posisi jongkok. Tanpa rasa canggung Alan mengapitkan kedua kaki dari leher belakang Aldo yang kemudian berdiri setelah keduanya sudah merasa siap. Kaki Alan satu per satu menginjak pundak lalu melesat naik, mencengkeram, dan menjalar. Butuh waktu belasan menit dan aksi mereka pada hari itu membuahkan hasil seperti biasanya, tanpa sepengetahuan si tuan rumah. Kecurigaan seakan tertutup oleh jumlah kepunyaan yang amat banyak.

***

Tak terasa, Sabtu telah menjemput mereka bertiga untuk mengikuti ekskul di sekolah. Bagi sekawanan angkatan mereka, kegiatan itu diwajibkan. Sesampainya waktu sebelum magrib, mereka melangkahkan kaki untuk pulang dengan santai. Rumah yang baru saja berbekas jejak dosa mereka akan terlewati. Cerita kesuksesan beberapa hari lalu pun menghiasi percakapan mereka.

Arsip Cerpen di Indonesia