Pemakaman Baru

Lain dari pemakaman manusia. Setelah pembukaan dan pemasaran yang gila-gilaan soal pemakaman itu, banyak peminat. Orang pertama yang mati adalah sesepuh kampung. Takmir masjid yang sudah tua. Entah apa yang membuat dia mati. Kata saksi, yang tak dikenal siapa, dia terpeleset ketika hendak mengambil air wudu. Padahal, lantai tempat wudu tak pernah licin. Setelah salat subuh, sesepuh itu selalu menyikatnya. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Namun warga memilih bergeming dan setuju perkataan saksi. Karena desas-desus terdengar, apabila ada yang membicarakan orang mati, dialah yang bakal mati selanjutnya.

Sesepuh itu akhirnya dikuburkan di pemakaman baru. Uang penguburan sebagian diambil dari kas masjid dan sebagian dari sumbangan warga. Tak ada keluarga yang ditinggalkan. Sejak muda, sesepuh itu memang tinggal di masjid. Tak punya istri, tak punya anak.

***

Rusman terjaga dari lelap. Tengah malam. Ada yang menggedor pintu rumahnya.

“Aku sudah bilang, aku tak punya uang.”

“Kau punya televisi sebagai jaminan. Sisanya bisa kaubayar nanti.”

“Tidak! Aku tidak mau.”

“Kau harus mengubur ibumu. Jangan sampai dia membusuk!” Nada suara pria tua itu menegang.

“Silakan jika kau mau mengubur ibuku. Tapi aku tidak akan bayar sepersen pun,” bentak Rusman sembari menutup pintu dengan kuat.

“Jika kau tak mau mengubur ibumu, aku akan….” Pria itu tiba-tiba bergeming.

“Akan apa?”

Tak ada suara menyambut. Hanya langkah kaki yang makin jauh dan hilang termakan kabut.

***

“Dia masih bersikeras untuk tidak menguburkan ibunya, Pak.”

“Kau sudah mengancam akan membunuhnya?”

“Tak sampai hati aku melakukan. Dia anak cerdas. Dia tak layak mati, Pak.”

“Persetan dengan cerdas! Kaubunuh dia atau kau yang kubunuh untuk menutupi pendapatan bulan ini.”

Telepon mati.

Arsip Cerpen di Indonesia