Ketika Rudi sedang berjalan sambil berpikir bagaimana cara menutupi penjualan makam bulan ini, dari arah berlawanan ada seorang perempuan paruh baya setengah berlari. Rudi terkejut. Dia menghentikan perempuan itu dan bertanya apa yang sedang terjadi.
“Anak Pak Kuno!”
“Kenapa dia?”
“Mati!”
Seketika senyum simpul muncul di ujung bibir Rudi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang.
“Mengapa kau tersenyum?”
“Oh, tidak. Tak mengapa. Apa sebab dia meninggal?”
“Kecelakaan. Aku ingin memberi tahu Pak Kuno dan istrinya.”
“Baiklah. Hati-hati, Bu.”
Perempuan itu berlalu. Rudi semringah.
Akhirnya Rudi bisa bernapas lega. Segera dia melapor ke kantor tentang kematian anak Pak Kuno. Setelah semua laporan selesai, dia datang ke rumah Pak Kuno. Di sana sudah ada wakil pihak yang menabrak. Tampaknya orang yang menabrak sedang diperiksa polisi. Mayat tak terlihat. “Mungkin di rumah sakit,” pikir Rudi.
Dengan dalih menawarkan pemakaman, Rudi dapat mendengar semua percakapan kedua pihak. Semua biaya pemakaman akan ditanggung penabrak. Keluarga Pak Kuno juga mendapatkan santunan yang pantas.
“Persetan siapa yang membayar. Yang penting target bulan ini tercapai,” pikir Rudi.
Setelah semua selesai, dia pulang dengan hati riang. Malam ini, Rudi akan tidur nyenyak. Hanya ada satu hal terselubung lagi yang harus dia selesaikan. “Biar besok sajalah, hari-hari akhir ini aku terlalu banyak pikiran.”
Matahari menyongsong dari ufuk timur. Rudi siap berangkat. Berangkat ke rumah Rusman. Dengan gagah dan sambil bersiul, dia berjalan bak baru mendapat hadiah umrah. Rumahnya dari rumah Rusman terbilang jauh. Namun karena sedang semringah, enteng saja dia menempuh jarak itu.
“Ada apa lagi kau ke sini?”
“Tenang, Rusman. Aku ingin bicara denganmu.”
“Aku sudah bilang berkali-kali, aku tak punya uang. Biarkan ibuku mati dan membusuk di rumah ini. Aku tak akan memindahkan.”
“Tidak. Ini tak ada sangkut-pautnya dengan pemakaman ibumu.”
“Lalu?”
“Kau tidak punya uang kan?”
***