Pemakaman Baru

Dua hari berlalu. Bau mayat sudah tercium. Rusman masih tetap pada pendirian; tak mau menyerahkan ibunya ke perusahaan pemakaman. “Persetan!” pikirnya. “Aku bisa melakukan sendiri.”

Hari ini dia ingin mengubur ibunya di halaman belakang. Sempit memang. Namun tak apalah. Bau tak sedap agak menganggunya. Dia ambil cangkul, lalu mengeruk tanah belakang. Setelah merasa cukup, dia pergi ke kamar ibunya. Menyeret dan memasukkan jasad ibunya ke dalam liang. Tak ada proses pemandian atau lainlain. Tak ada kain kafan. Hanya ibunya dan pakain terakhir yang digunakan.

Tak ada satu pun warga tahu ibunya telah mati. Ketika ditanya, Rusman menjawab Ibu pergi ke kampung, menengok orang tuanya. Yang tahu kematian ibunya hanyalah dia dan Pak Rudi, pria tua yang selalu mengganggu Rusman.

Rudi, setelah diancam, mencari cara agar tidak dibunuh atasannya. Ketika kembali mendatangi Rusman, Rudi tidak dapat lagi berbuat apa-apa melihat Rusman, dengan pakaian penuh tanah, sedang istirahat di depan rumah. Rudi tahu Rusman telah mengubur ibunya. Itulah yang ditakutkan Rudi, mengingat dia tahu persis Rusman memang memiliki tanah lebih di belakang rumah.

“Kau telah menyulitkanku, Anak Muda.”

“Aku sudah mengatakan berkali-ulang padamu, aku tak punya uang.” Sambut Rusman dengan nada datar.

“Kau sudah main-main dengan perusahaan kami, Nak. Hati-hati.”

“Apa? Kau mengancamku? Seminggu lalu kau membunuh Bapak, dua hari lalu kau membunuh Ibu. Sekarang kau mau membunuhku? Jika itu terjadi, aku yakin warga tidak akan tinggal diam dan kau serta perusahaanmu itu akan dicari polisi.”

Rudi diam. Persis seperti yang dia pikirkan. Rusman memang anak yang cemerlang. Tidak pantas anak secerdik itu mati sia-sia. Rudi pergi kembali dengan tangan hampa.

Rudi bingung. Tidak ada tanda-tanda kematian dalam waktu dekat ini. Kematian yang terlalu mengada-ada dapat memicu kemarahan warga. Namun jika dia tidak segera dapat pengganti ibu Rusman, pekerjaan dia terancam. Bahkan nyawa sebagai taruhan.

“Dasar bos gila!” hardik dia dalam hati.

Memang kenapa jika satu bulan saja tidak mencapai target? Keuntungan memang sedikit berkurang, tetapi tidak akan membuat perusahaan menjadi pincang. “Sinting!”

Arsip Cerpen di Indonesia