Perempuan Buruk Rupa di Bawah Pohon Beringin

“Kalau aku ketemu pohon itu aku mau minta PS.” Aku akan main PS sepuasnya. Seorang bocah berkata lagi.

“Aku mau HP biar bisa bermain gim dan belajar dengan HP.”

“Memang kamu bisa membaca?” Temannya menggoda bocah berpakaian lusuh itu. Bocah itu hanya menggaruk kepalanya.

“Aku akan minta dibuatkan sekolah. Agar kita tidak perlu menyeberang sungai untuk pergi bersekolah ke desa tetangga.”

“Ah, aku mau es krim saja. Kata temanku es krim itu enak.”

“Kamu mau minta apa Asih?” Temanku tiba-tiba bertanya padaku.

“Aku ingin bertemu ibu. Sudah lima tahun ibuku menjadi TKW di Arab Saudi.” Aku menjawab pertanyaan itu. Teman-temanku hanya diam.

“Kalau aku bertemu beringin itu aku ingin dibuatkan gitar. Aku ingin bermain gitar dan Asih jadi penyanyinya.” Mereka tertawa kecil.

Nenek Soma seperti biasanya menanggapi pertanyaan dan pernyataan anak-anak itu dengan senyum di bibirnya yang kering. Diraihnya sehelai daun sirih yang ada dalam kotak kayu di depannya. Dioleskannya sesuatu berwarna putih di helai daun sirih itu. Ditambahkan sedikit buah pinang, dan bahan lain. Entah apa itu, aku juga tidak tahu. Beberapa saat kemudian mulutnya sudah mengunyahnya. Bibirnya memerah. Aku dan anak-anak lain memperhatikan tarian bibir Nenek Soma. Itu memang sering ia lakukan di tengah cerita. Kami bocah-bocah akan menunggu dengan sabar.

Setiap purnama perempuan buruk rupa itu akan berjalan menembus hutan belantara. Tak menghiraukan binatang buas. Tujuannya adalah beringin raksasa yang tumbuh di tengah hutan. Konon beringin itu telah mendapat anugrah Tuhan sehingga dapat mengabulkan permohonan seseorang. Perempuan itu berharap pohon beringin mau mengobati mukannya yang rusak. Agar ia dapat memiliki wajah cantik seperti perempuan lain di desannya.

“Anakku janganlah putus asa. Kecantikan muka bukanlah yang utama. Yang utama dalam hidup adalah kecantikan hati. Jalanilah hidupmu dengan semangat. Hormatilah orang yang lebih tua. Bantulah mereka yang membutuhkan pertolongan.” Begitulah pesan pohon beringin raksasa.

“Tapi, kalau wajahku seperti ini. Bagaimana aku dapat menolong orang lain. Tak ada yang mau dekat denganku. Mereka takut, dan  jijik melihatku.” Perempuan buruk rupa masih bersimpuh di bahwah cahaya purnama yang muncul dari balik rimbunnya daun beringin.

Arsip Cerpen di Indonesia