“Mayat siapa itu?”
“Perempuan tua.” Lalaki itu mengakhiri perkataanya dengan meneguk air yang ada di meja ruang tamu Pak Kepala Kampung.
Aku melihat lagi bocah-bocah duduk melingkar. Si pencerita mengunyah daun sirih. Dia melanjutkan ceritannya: Saat itu purnama kelimabelas. Perempuan buruk rupa datang lagi ke hutan. Ia bersila di bawah sinar purnama yang menyeruak masuk hutan disela-sela lebatnya daun beringin raksasa. Lewat tengah malam. Suara lolong serigala tak membuatnya takut. Perempuan itu membuka bajunya. Membuka kain yang melilit pinggangnya. Lalu ia membuka kain kerudung penutup kepala dan wajahnya. Perempuan itu yang sudah telanjang bulat berjalan mendekati akar beringin yang mengalirkan air sejuk. Dia membasuh muka dan seluruh badannya. Setelah itu perempuan itu duduk bersila di atas jalinan akar pohon beringin raksasa. Tangannya menengadah. Sehelai daun beringin jatuh di wajahnya. Tak berapa lama berjatuhan lagi daun-daun beringin lain yang jatuh menutupi wajah buruknya.
Purnama hampir terbenam perempuan cantik berjalan ke luar dari hutan. Sinar matahari muncul diiringi suara burung bernyanyi. Perempuan itu membiarkan rambutnya tertiup angin. Langkah kakinya dipercepat. Langkah tergesa wanita itu tidak jauh berbeda dengan suasana saat ini. Saat rombongan warga keluar dari dalam hutan dengan langkah tergesa. Terlihat warga bergegas membawa mayat. Sesosok mayat perempuan tua. Yang ditemukan telentang di bawah pohon beringin. Wajahnya rusak.
Karangasem, 5 April 2019
Wayan Widiastama tinggal di Karangasem.