“Kenapa perempuan itu mukanya bisa rusak, Nek?”
“Kasihan sekali perempuan itu. Apalagi ayahibunya sudah tidak ada.
Pertanyaan muncul lagi dari bibir bocah-bocah yang duduk di halaman gubuk Nenek Soma. Mereka ada yang bersila, ada menjulurkan kakiknya, beraneka cara duduk yang mereka lakukan.
Malam itu purnama besinar terang. Tak ada sehelai awan pun menutupi sinarnya. Anak-anak bermain dengan riang. Mereka bermain sembunyisembunyian. Ada yang mencari, ada yang sembunyi. Di antara anak itu ada anak perempuan yang mulai tumbuh remaja. Dia berlari dengan semangat untuk bersembunyi agar tidak diketahui oleh temannya yang bertugas mencari. Saat berlari itulah dadanya yang mulai tumbuh membesar menabrak seseorang. Lelaki dengan botol tuak di tangan terbelalak matanya. Lelaki itu melihat bidadari. Lekukukan pinggul dan dada remaja itu membuat dadanya berdebar. Di lemparnya botol tuaknya. Di sergapnya anak itu. Di pinggir sungai di atas bebatuan halus. Bermandikan cahaya purnama pakaian bocah itu dilucuti. Teriakan bocah itu tersapu gemericik air sungai. Tujuh hari kemudian wajah perempuan itu rusak. Dia ditemukan di dasar jurang. Untungnya nyawanya bisa diselamatkan.
“Jadi semenjak itu wajah perempuan itu rusak.” Aku tidak tahan untuk tidak ikut berkomentar. Perlahan purnama ditutupi mendung. Bocahbocah kembali ke rumah masing-masing.
Bulan Purnama semakin tinggi. Lewat tengah malam seseorang berjalan terseok masuk ke dalam hutan.
Pagi datang dan berlalu. Sore kini merekah. Sore yang damai itu menjadi ramai dengan teriakan dari gubuk Nenek Soma.
“Nenek Soma tidak ada!”
“Di sungai tidak ada!”
“Di kandang kambingnya juga tidak ada!”
Nenek Soma hilang. Warga kampung panik. Mereka mencari Nenek Soma. Seluruh wilayah desa diacak-acak tapi nenek itu tidak ada.
Purnama ini terlihat pucat. Tak jauh beda dan pucatnya wajah seorang lelaki yang berlari dengan nafas memburu. Lelaki itu adalah pencari madu yang setiap hari pergi ke hutan untuk mencari madu yang akan ia jual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Di dalam hutan, di bawah beringin raksasa!”
“Ada apa di sana?
“Ada mayat. Sudah membusuk.”