Biarkan Aku Pulang Bersama Tuhan

Muntah! Benar adanya di setiap harinya aku ingin muntah lantaran harus melihat wajah Fans yang konyol itu, betapa tidak mau muntah, karena harus bekerja di tempat yang sama dengan dirinya, setengah mati aku ingin menghindar dari dirinya, tetap saja ayah berusaha keras agar Fans tak pernah menjauh dariku, awalnya aku keberatan Fans bekerja di perusahaan ayah, tapi apa boleh buat keputusan ayah tak bisa diganggu gugat, alhasil kini aku harus menerima kehadiran musuh terbesarku dengan hati yang berat. Satu hal yang paling membuatku geram, Fans harus berangkat ke kantor satu mobil denganku begitu juga dengan pulangnya, stres! Setiap keputusan ayah tak pernah bisa kubantah, padahal aku ingin sekali membantahnya.

“Hans, kau selalu sukses dan berhasil dalam menangani semua proyek yang bernilai tinggi, tak ada salahnya kau bimbing Fans untuk mengikuti jejakmu, adikmu itu juga berbakat dalam kinerja.”

“Adik! Adik dari mana, dari Hongkong maksud ayah, aku tak pernah menganggapnya sebagai seorang adik.”

“Hans…. tak baik berkata seperti itu, apa jadinya kalau Fans mendengar perkataan kurang mengenakkan yang keluar dari mulutmu, terlebih ibumu Nania, ia juga akan sedih mendengarnya.”

“Aku tak peduli, biar saja Fans dan perempuan lonte itu mendengarkan perkataanku, mereka berdua telah merusak kebahagiaanku di rumah ini.”

“Hans! Jaga perkataanmu! Ayah tak pernah mendidikmu untuk berkata kasar, Fans dan ibunya akan selalu menjadi bagian dari keluarga ini, kau harus ingat itu!”

“Aku tak akan pernah bisa menerima mereka sampai kapan pun, itulah kebenaran yang harus ayah terima.”

“Hans, tindakanmu itu hanya membuat ayah sedih…”

“Sudahlah ayah, aku tak ingin berdebat, aku muak dengan semua ini!”

“Hans….dengarkanlah ayah, Hans…..!” Kutinggalkan ayah sendirian di dalam kamar, kedua matanya berpengharapan penuh bahwa aku akan memalingkan wajahku ke belakang dan menghampirinya lalu berubah pikiran. Ayah salah besar, aku tak akan pernah berubah pikiran, Fans dan perempuan jahanam itu memang begitu berarti bagi ayah, tapi bagiku mereka tak lebih seperti sampah busuk yang tak memiliki arti. Ah….malam ini begitu hambar dan membunuh, gagak hitam sialan itu kembali menyanyikan lagu-lagu malam yang tak aku sukai, suara kicauannya menusuk tulang sulbiku dengan begitu dalam, lagi-lagi si gagak hitam sepertinya ingin mencengkeram dan merenggut sesuatu hal yang istimewa dariku, tapi apa gerangan?

Arsip Cerpen di Indonesia