Biarkan Aku Pulang Bersama Tuhan

“Hans, ayah akan selalu ada untukmu, ayah menyayangimu….”

Malam ini adalah malam yang dipenuhi dengan renjana airmata, tangisanku dan tangisan ayah lebur menjadi satu, mencipta simponi malam yang bergemeretak ngilu….

Rasa banggaku menjulang tinggi saat kukenakan jas kesayangan ayah ketika memimpin rapat di kantor, selesai rapat hpku berdering, ibu meneleponku, sangat jelas terdengar di genderang telingaku ibu meneleponku sembari terisak dalam tangisan yang menyayat pedih.

“Hans pulanglah nak, ayahmu telah pergi…..”

“Maksud ibu?”

“Ayahmu mengalami kecelakaan tragis di perbatasan kota sewaktu ia hendak menemui rekan bisnisnya di hotel.”

“Pulanglah nak….”

Spontan jantungku berdegub dengan irama yang kencang, kurasakan persendian tulang kakiku merapuh, ringkih dan menggeletar, seakan langit runtuh di tempurung otakku, kesedihan telah menghunus hatiku tanpa ampun, aku tak berdaya, airmataku bergemuruh bagai badai yang membara, isak tangisku meradang, tanpa kusadari airmata itu jatuh perlahan dan menitik hingga mengenai kantong saku jas milik ayah. Kusentuh bagian kantong saku jas yang telah terkena airmataku, kurasakan ada sesuatu hal di dalamnya, ternyata di dalamnya ada secarik kertas, perlahan kubuka, aku membacanya dengan disertai airmata yang mengucur deras.

Hans…. maafkan ayah, seharusnya kebenaran ini ayah sampaikan secara langsung melalui lisan ayah sendiri, tapi apalah daya Izrail terus memanggil-manggil namaku untuk segera pulang, sehingga ayah tak memiliki waktu lagi untuk menyampaikannya. Nania perempuan yang selama ini kau benci, ia tak lain adalah ibu kandungmu, perempuan baik hati itu telah mengizinkan kami untuk mengadopsimu sewaktu kau masih bayi, karena aku tak bisa memberikan keturunan. Hidup sebagai seorang janda di jalanan adalah hal yang terberat dalam hidup ibumu, di satu sisi ia harus membesarkan adik lelakimu yang ingin kami adopsi juga tapi tak diperbolehkan oleh ibumu, untuk itulah aku menikahi ibumu bukan karena nafsu belaka, aku menikahinya agar bisa melindungi dan memberikan kehidupan yang baik, apa yang aku lakukan belumlah sebanding dengan kebaikan hatinya karena telah merelakanmu untuk kami didik dengan sepenuh cinta. Hans….biarkan aku pulang bersama Tuhan, ikhlaskan jejak kepulanganku dengan kebesaran hatimu, kau harus tahu, ayah tak pernah pergi menjauh darimu, ayah selalu ada di hatimu….

Usai membaca surat dari ayah, airmataku kembali runtuh menggempur ketegaranku yang bertambah sekarat….***

 

(Taman Imajinasi Sumiati Al Yasmine, 09.15 Jadwal Istirahat di SDS Muhammadiyah 2018)

Arsip Cerpen di Indonesia