Biarkan Aku Pulang Bersama Tuhan

Beberapa hari ini, ayah tak menggebu-gebu seperti hari-hari sebelumnya, ia tak pernah menyinggung Fans dan Nania ketika kami bertemu, tak pernah sekalipun seusai meeting di kantor ayah menghabiskan waktunya hanya berdua denganku, tapi kali ini ia melakukannya, kami berdua duduk santai sembari menikmati pemandangan sore dan menatap pelataran langit biru dari lantai paling atas. Hal ini begitu langkah, menghantarkanku pada cerita lama beberapa tahun silam, sewaktu kecil ayah sering mengajakku ke kantor jika sekolah libur, lantas kami berdua mengobrol di tempat ini, mengobrol apa saja, ayah dengan senang hati menanggapi celotehanku tanpa pernah mencela. Entah kenapa kurasakan ayah begitu berbeda.

Ketika di rumah, ayah juga berbeda dalam memperlakukanku, ia dengan setia menemaniku menonton TV sampai larut malam, sesekali ia menggodaku dengan lagu Twinkle-Twinkle Little Star, lagu tersebut harus kuhapal mati-matian sebagai PR karena aku sering mengganggu Syanaya teman sekelasku yang berpipi tembem, ayah sering meledekku, ia bilang Syanaya adalah pacar kecilku. Berkat Ayah lagu tersebut mampu kuhapal tanpa cacat, sebelum tidur ayah selalu datang ke kamarku, lantas ia mengajariku bernyanyi sembari mengelus kepalaku. Tak hanya itu saja, kenapa tingkah laku ayah akhir-akhir ini berbeda? Di pagi hari ketika libur bekerja di kantor, ayah dengan semangatnya mengantarkan sarapan pagi ke kamarku, dari tangannya sendiri ia menyuapiku, kedua mata kami saling bertemu, matanya mengisyaratkan bahwa ia akan pergi jauh, tapi pergi jauh ke mana aku tak tahu.

Ayah benar-benar berbeda, ia menjadi lelaki yang pendiam, menghabiskan waktu kesendiriannya di dalam kamar, diam-diam ia sering menghampiri kamarku hanya untuk memastikan apakah aku sudah tidur atau belum. Sering kuperhatikan ia berdiri begitu lama hanya untuk melihat foto keluarga yang terpajang di ruang tamu, setelah itu ia baru bergegas berangkat ke kantor, ayah tak pernah memintaku untuk berangkat kerja dengan menggunakan mobilnya, tapi kali ini ia memintanya, sementara Fans yang mengendarai mobilku, dua hari belakangan ini aku berangkat kerja dengan menggunakan mobil ayah, sebelum mobil melaju, kutatap ayah begitu dalam saat ia duduk di sampingku, kenapa ayah berbeda, kerapkali aku menatap kedua matanya seakan aku akan kehilangan, kehilangan dalam masa yang panjang.

Sesayup angin menderu, menyelinap dalam ruang yang pengab, malam hanya meninggalkan kesunyian yang tak mampu terbantahkan, malam yang tertatih dengan aroma anyir kepekatan yang terendap. Gagak hitam kembali bersuara nyaring, suaranya berpadu dengan bisikan angin yang meneror, aku seakan dikejar rasa ketakutan. Suara ketukan pintu membuatku tercekat, kedatangan ayah ke kamarku membuatku merasa tenang. Malam ini ayah datang dengan membawa jas kesayangannya, aku menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.

“Hans, ini adalah jas kesayangan ayah, pakailah nak, pimpinlah rapat esok hari dengan memakai jas ini.”

“Kau pasti akan bertambah gagah dengan memakai jas ini, kau akan selalu menjadi kebanggaan di hati ayah, selamanya….” Perkataan ayah membuatku tak kuasa menahan puing airmata, kupeluk ayah dengan erat, pelukan yang tak ingin kuakhiri, kucium pundak ayah berkali-kali, tangisanku bertambah mengharu saat ayah begitu eratnya memegang jari jemari tanganku.

Arsip Cerpen di Indonesia