Dalam perjalanan yang terasa panjang, sebuah kabar terbaca dalam koran yang sempurna diselimuti debu, di sana dikatakan bahwa penerbangan British Airways (BA) 009 dalam lesatan sayapnya dari Heathrow, London, menuju Auckland di Australia, hampir saja jatuh setelah keempat mesinnya berturut-turut mati. Benar, bencana itu bahkan mengangkasa dan menjangkau hal yang tidak dapat diperkirakan.
Pesawat itu masih beruntung, setelah keluar dari awan tebal yang diselimuti debu vulkanik, bisa mendarat selamat di Bandara Halim Perdana Kusuma, tetapi sepertinya tidak demikian dengan diriku saat itu. Sejarah dunia mencatat bahwa Galunggung menyebabkan bencana yang luar biasa di tahun 1982, tetapi dalam hati ini, sejarah diri terukir sempurna, dengan tinta darah dan air mata. Di tahun itu, setengah hidupku terenggut paksa.
Di saat orang berbondong-bondong mengungsi dengan kendaraan seadanya, truk-truk, angkutan pedesaan yang terbatuk-batuk, ataupun bus-bus rombeng, aku malah berusaha menuju titik bencana, di mana semua orang mungkin sudah tak mungkin lagi ada. Nalarku kalah oleh sebuah rasa bernama cinta, mungkin lebih tepatnya hal itu berbentuk kegilaan.
Dengan menumpang sebuah mobil patroli, akhirnya aku sampai di sebuah gubuk kenangan. Berharap menemukan senyum penyejuk jiwa, melihat mata bulatmu yang selalu menampakkan kecerian. Nihil. Kosong. Pedih. Sesak. Kau tak ada di sana, bahkan gubuk itu sudah hancur dan semakin usang, diliputi debu tebal. Sepertinya beberapa pekan lalu lava panas melewati area tersebut. Tiba-tiba saja dunia lebih gelap dari biasanya, mata merabun.
Pikiran jelek bersiborok dengan prasangka, melahirkan kesedihan tak berujung. Apakah kau tak selamat? Berharap masih bisa menemukanmu hidup dan baik-baik saja. Entah, apakah harapan itu berlebihan? Saat itu aku hanya bisa berlutut di tengah kesedihan yang mendalam.
“Sudah, jangan terlalu lama di sini. Kita harus segera kembali ke pos yang aman. Barangkali mereka baik-baik saja di suatu tempat.” Suara seorang tentara seolah membawa sebuah kesadaran dan secercah harapan.
Aku hanya mengangguk, menurut, bagaimanapun tentara tersebut sudah berbaik hati mengantar dengan keikhlasan yang paling murni. Biarlah diri mengalah, jiwa bersabar, berharap esok atau lusa bisa bertemu lagi denganmu, pemilik mata bulat dan lesung pipi paling sempurna.