Fragmen ketika Galunggung Menangis

“Bahkan di tempat kotor pun Tuhan masih suka disinggung, Akang.”

“Jalang!” umpatku, kasar.

Dia hanya menunduk dalam, satu tetes air mata kembali menetes di sudut matanya.

“Saya memang jalang, Akang, jadi sudah jelas bukan. Pulanglah, tempat sekotor ini tak cocok diinjak oleh kaki sucimu.” Wanita itu berbalik, dia berlari menjauh. Meninggalkanku yang sedang berdiri kaku.

Tiga dasawarsa lebih kejadian ini berlalu, tapi masih lekat di ingatan, bagaimana waktu ternyata terkadang tak mampu mengobati luka yang terkadung bernanah dan telah menginfeksi seluruh jiwa.

“O-ho apa yang terjadi terjadilah, yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya, O-ho apa yang terjadi terjadilah, yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa”[1]

Lirik lagu lawas itu seolah memorak-porandakan fragmen ingatan. Sebuah penyesalan datang terlambat. Andai saat itu aku lebih rasional. Andai raga tak menyerah dengan satu penolakan. Andai diri mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan seribu andai yang muncul begitu saja dalam pikiran, mungkin wanita di foto lawas ini kini ada di sampingku.

Benar, wanita itu terpaksa melakukan semuanya, demi sebuah penghidupan dari wanita yang sangat disayanginya, yang saat itu menderita TBC akut, juga demi menghidupi kesepuluh adiknya, setelah bapaknya mati, tak kuat mengisap debu yang mengepul dari Gunung Galunggung. Dan kini, wanita itu telah pergi, dari hatiku, dari dunia fana ini, selamanya. (M-2)

 

Catatan:

[1] Lirik lagu Kupu-Kupu Malam, Titiek Puspa

 

Temanggung, 100319

El Cavega Terasu adalah nama pena dari Elis Umi Jamilah, seorang penulis lepas kelahiran  kota Bandung, 31 Desember. Tergabung dalam Komunitas Empis-Empis Temanggung, dan berbagai komunitas menulis lainnya

Arsip Cerpen di Indonesia