Fragmen ketika Galunggung Menangis

Hari berganti minggu, bulan, bahkan tahun. Aku masih saja mencarimu, di sudut-sudut kota, di pinggiran-pinggiran desa tempat para pengungsi membangun lagi kehidupan baru mereka. Nihil. Kau seolah hilang ditelan bumi. Satu doa yang tak pernah berhenti dirapal sempurna di tiap lima waktu, berharap dirimu masih hidup.

Satu dasawarsa berlalu, dan berbagai kejadian terlewati dengan sangat cepat. Aku sudah hampir menyerah menemukanmu, namun saat itu, ketika menuju lokalisasi Saritem, demi mengantar seorang teman yang berjualan kutek untuk para kupu-kupu malam, aku menemukan senyum sejuk pemilik mata bulat dan lesung pipi paling sempurna di dunia ini, hanya saja senyum itu bukan lagi khusus untukku.

“Apa kau bahagia?”

Pertanyaan teraneh yang kulontarkan pertama kali saat bersitatap denganmu. Bukan bertanya kabar dan semacamnya. Wajahmu memerah, entah merasakan apa. Ada lubang yang tiba-tiba saja terbentuk di bilik Al-Isyq milikku.

“Apa kabar, Akang?” tanyamu, kemudian.

Aku hanya tersenyum sinis dan datar.

“Apa kau mau pulang denganku?” tanyaku kembali, tak memedulikan pertanyaanmu.

“Tidak bisa, Akang. Sekarang inilah kehidupan saya.”

“Aku akan memenuhi semuanya,” tegasku. Kaku. Rahang tiba-tiba saja mengeras. Apa dia tidak tahu bahwa kini aku bahkan mampu membeli siapa pun?

Dia hanya menggeleng kuat-kuat. Satu tetes air mata jatuh, dan dia menegaskan kembali penolakannya.

“Semuanya tidak semudah itu, Akang. Kalau tidak ada perlu di sini, pulanglah. Seseorang yang lebih baik dari saya pasti menunggumu,” ucapnya, parau.

Aku memegang tangannya kasar, beberapa pasang mata menatap heran, entah kenapa, harga diriku seolah terinjak-injak, apa dia pikir aku tidak bisa menghidupinya dengan baik?

“Ikut denganku!” Perintahku, kasar.

Dia hanya tersenyum sedih, tak berontak ataupun menjerit. Dengan lembut tangannya mengelus pundakku, hangat.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa kita paksakan. Hiduplah dengan baik, Akang. Saya baik-baik saja.”

“Kamu tahu, hal ini haram?”

“Tuhan tahu segalanya, Akang.”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan di tempat sekotor ini.”

Arsip Cerpen di Indonesia