Ayahku dan komplotannya sangat licin selalu lolos dari sergapan orang-orang desa yang mereka rampok. Dalam setiap sergapan, sekejap mata sudah tidak terlihat. Walau senter dan obor diarahkan pada gelap malam jumlahnya tak terhitung.
Di luar sepengetahuan ibu, ayahku memanggilku. Dia menginginkan setelah aku besar mengganti dirinya sebagai pimpinan komplotannya. Aku tidak berani menolak. Aku tahu watak ayahku. Bila permintaannya kutolak siksaan berat akan menimpa tubuhku. Sebagai pengetahuan awal, ayah mengajariku menutup wajah agar tidak dikenal. Selanjutnya ayah mengajariku teknik merampok. Teknik mempertahankan diri.
Di luar sepengetahuan ibu, ayahku juga mengajarkan mantra pembangkit kekebalan sesudah menyuruh aku menelan sesuatu yang dimasukkan pada sebiji pisang emas. Juga diajarkan mantra menghilang saat dikejar.
Penduduk desa tempatku lahir, semula tak membenci aku, ayah dan ibuku. Karena tak pernah melakukan perampokan di sana. Karena, perampokan yang ayah lakukan, ditularkan juga pada desa kelahiranku, maka seluruh penduduk (di luar keluarga besar ayah dan ibu) membenci ayah, ibu dan aku.
Kebencian mereka bukan diawali ayah dan komplotannya ketahuan merampok. Tetapi diawali dengan salah seorang penduduk desa memergoki aku dan ibu menjual hasil rampokan ayahku di kota. Sialnya, hasil rampokan itu, milik penduduk paling kaya di desaku.
Karena tahu ayah pesilat tangguh dan kebal. Karena masih menaruh rasa hormat kepada keluarga besar ayah dan ibu, penduduk desa bersepakat, melalui kepala desa, menyarankan agar ibu dan tetua keluarga menasihati ayahku.
Hasilnya? Ayah melontarkan kata-kata di luar dugaan, saat pertama menasihati.
“Perempuan bedebah, berhenti menasihatiku. Kau tahu? Aku melakukan ini karena dendam pada desaku ini juga pada desa lain yang aku rampok. Desa ini dan desa-desa yang kurampok mengirim perwakilan membunuh ayahku di kuburan desa. Karena ayahku menjadi pimpinan PKI yang tak mau menyerah. Dan ayahku, setelah rahasia kekebalannya diketahui dibacok beramairamai. Ditebas beramai-ramai.”
Diam sesaat. Lalu, “Kau pasti mau tahu, dari mana aku tahu hal ini. Ibuku membisikiku sebelum meninggal. Minta kepadaku sebelum memejamkan mata agar membalaskan. Nama-nama perwakilan desa, desa ini dan desa-desa yang kurampok disebutkan satu per satu dan itu masih kuingat.”
Ibu yang menerima jawaban tak terduga itu, langsung diam. Dan aku, tak bisa berkata apa-apa.