Ketika api padam, penduduk desa kelahiranku pergi setelah menatap dengan sorotan mata penuh kebencian.
Sepeninggal mereka, aku dan ibu duduk di halaman termangu. Tidak saling sapa. Tiba-tiba aku ingat, di desa sebelah yang tidak pernah dirampok oleh ayahku dan komplotannya karena dulu basis PKI, masih ada keluarga jauh ayah. Kepada ibu kukatakan, aku akan ke sana meminta bantuan. Ibu tidak menyahut.
Sepanjang jalan terbayang di mataku keluarga jauh ayahku menerima kedatanganku dengan ramah. Dengan ramah pula memberi bantuan. Pun dengan ramah menawari agar aku dengan ibu mau tinggal di sana.
Yang kubayangkan itu, membuat langkahku terayun dengan cepat. Ternyata yang kubayangkan itu, bertolak dengan kenyataan yang kuterima. Mereka bukan saja tidak ramah menerimaku. Mereka, dengan kata-kata pedas memaki lalu mengusir.
Dengan perasaan hancur dan langkah gontai aku pulang. Setiba di rumah aku terkejut. Ibu tak ada. Kupanggil-panggil, tidak menyahut. Kucari hingga ke sudut kebun kelapa, sia-sia.
Lalu kucari ke sawah milik leluhur, tak kutemukan. Kucari ke sungai di ujung desa, yang airnya mengalir deras, ibu tak ada.
Sampai senja kucari, tak kutemukan ibu. Dengan berat hati dan digayuti sesal karena meninggalkan ibu, kutinggalkan desa kelahiranku. Keputusan ini kuambil setelah kupertimbangkan dengan matang: sendiri di tempat tinggal yang tidak lagi berisi bangunan, berbahaya. Tak urung membuat nyawaku melayang. Takdir mendamparkanku di kota yang riuh ini.
Takdir pula yang membuatmu memungutku dan mengangkat sebagai saudara. Lalu, mengajakku setiap malam melakukan apa yang pernah ayahku lakukan.
Amlapura, 2018
Catatan:
Hari Raya Galungan: Hari Raya Agama Hindu.
IDK Raka Kusuma, lahir di Klungkung, Bali 21 Nopember 1957. Puisinya pernah dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpennya Tanah, terbit Tahun 2017. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Bali.