Ketika perwakilan keluarga besar ayah dan ibu datang menasihati ke rumah, bersama ibu kudengar perkataan ayah yang bernada marah.
“Kalian lebih memihak orang lain dari keluarga sendiri!”
“Apa maksud Made?” salah seorang tetua keluarga ibu bertanya.
“Kalian jauh lebih tua dariku. Pasti kalian ingat peristiwa pembunuhan beramai-ramai yang dilakukan perwakilan desa ini dan desa-desa yang kurampok!”
“Saat itu …”
Ayahku langsung menyela sambil menuding, “Sebelum kuhabisi kalian satu-satu, tinggalkan rumah ini sekarang juga!”
Perwakilan keluarga ayah dan ibu, satu per satu pergi. Kulihat seraya melangkahkan kaki mereka menunduk.
Sebulan setelah peristiwa itu, keluarga besar ayah yang terdiri dari sepuluh keluarga memutuskan transmigrasi. Keluarga besar ibu yang terdiri lima keluarga demikian juga. Tujuan mereka, jelas, tidak ingin dilibatkan oleh pihak desa. Juga tidak ingin terlibat jika pihak desa bertindak tegas kepada ayah, juga kepada komplotannya. Tujuan lain, mereka membuang aku, ayah dan ibuku. Sekaligus, secara terselubung pula tidak mengakui keluarga dan memutus tali semenda dan hubungan darah.
Bagaimana sikap ayah setelah itu? Tetap melakukan perampokan. Hanya saja pembunuhan jarang dilakukan. Penyebabnya, jelas, yang punya rumah tidak melakukan perlawanan. Ibu dan aku tetap menjual hasil rampokan ayah ke kota. Tanpa menghiraukan sorot mata tajam mengandung dendam penduduk desaku ketika kami melangkah di jalan.
Kau pasti tahu. Siapa pun diperlakukan sengan semena-mena, apalagi dirampok pasti akan melakukan perlawanan. Terang-terangan atau sembunyisembunyi. Juga melakukan upaya-upaya untuk bisa dengan segera melenyapkan si pelaku. Demikian juga penduduk desa tempat kelahiranku. Mereka bersatu padu. Anehnya, upaya mereka selalu sia-sia. Ayah dan komplotannya selalu terhindar dari segala bentuk jebakan dan pengejaran.
Tapi, penduduk desa dan penduduk desa lain yang dirampok ayahku, tidak putus asa. Sekali gagal, dua kali upaya mereka lakukan. Dua kali gagal, tiga kali upaya mereka lakukan. Tiga kali gagal, empat kali upaya mereka lakukan. Empat kali gagal, lima kali upaya mereka lakukan. Lima kali gagal, enam kali upaya mereka lakukan. Enam kali gagal, tujuh kali upaya mereka lakukan. Tujuh kali gagal, delapan kali upaya mereka lakukan. Delapan kali gagal, sembilan kali upaya mereka lakukan.
Pada upaya kesebelas mereka berhasil mengenyahkan ayahku bersama komplotannya. Penyebabnya, pastilah rahasia kekebalan mereka sudah diketahui.