Maafkan Tak Hormatku Pahlawan

“Aku… aku Oytasus. Aku bukan pemburu. Aku tidak membawa anjing,” jawab Oytasus heran.

“Oytasus siapa? Aku tak mengenalnya.”

“Iya, Datuk. Aku Oytasus, ketua dewan Kolos?”

“Oytasus ketua dewan Kolos? Suku apa pula itu, aku baru mendengarnya!”

“Bukan suku Datuk, tapi jabatan. Aku ketuanya!”

“Jabatan…? Yah… yah… jabatan! Masuklah jabatan,” perintahnya.

Oytasus kemudian mendorong pintu reot itu, terdengar bunyi mengernyit yang unik. Di dalam ia mendapati sesosok yang sangat ringkih, tubuhnya hanya bersarung Silungkang, dan di dadanya yang terbuka tampak garis tulang berjenjang-jenjang, mirip jenjang-jenjang Sawah Kandang.

“Hanya pemburu yang mau menginjak rumahku, tapi kau bukan pemburu, maka sebenarnya kau tak layak. Pastilah ada hal penting, hal apakah?” tanya Datuk Palano dengan suara yang sangat berat, serak, dan seolah-olah untuk dirinya sendiri.

Kembali Oytasus terjengah, di tubuhnya yang ringkih dan rambutnya yang ubanan ternyata Datuk Palano mengucapkan katakata yang runtut.

“Aku mencari kuburan Enduro, aku sudah bertanya ke seluruh negeri, orang-orang tua mengatakan hanya Datuklah yang tahu!”

“Untuk apa kau cari bangkai pemburu yang bukan pemburu itu?”

Oytasus tersentak, semua orang di daerahnya mengagumi Enduro, itulah sebabnya anggota dewan sepakat mengang katnya sebagai pahlawan. Tetapi, Datuk Palano yang banyak tahu tentang kehidupannya malah melecehkannya.

“Saya mencari kuburannya untuk kami makamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan, sebab Bupati dan seluruh anggota dewan telah mengangkatnya sebagai Pahlawan!”

“Pahlawan? Suku apa pula itu?”

“Bukan suku Datuk, tapi penghormatan!”

“Penghormatan…?  Ya, ya. Penghormatan!” guman Sutan Palano makin berat, makin serak, makin rendah. Kemudian ia melanjutkan, “Tak seorang pun tahu di mana Enduro dikuburkan karena ia mati tanpa kuburan. Bahkan, tak seorang pun tahu kapan dia mati atau apakah dia benar-benar mati.”

Oytasus terjengah, pupuslah harapannya. Kalau dia tidak bisa menemukan kuburan Enduro maka habislah kariernya. Lama ia tercenung kemudian mencoba mengorek informasi lain.

Arsip Cerpen di Indonesia