Maafkan Tak Hormatku Pahlawan

“Terus apa yang bisa mengingatkan orang kepada Enduro?”

“Untuk apa mengingat pemburu yang bukan pemburu itu, yang selalu meninggalkan jejak haram di setiap kampung yang ia singgahi?”

Lagi-lagi, Oytasus terjengah karena yang ia dengar selama ini, sosok Enduro adalah tokoh  pembela kebenaran yang berani dan berilmu tinggi.

“Kami ingin nama Enduro menjadi spirit masyarakat kita!”

“Spirit? Suku mana lagi ini?”

Kali ini, Oytasus mulai jengkel, kemudian dengan ketus ia menjawab.

“Spirit tak bersuku, tak bertuan, dan tak berdatuk. Spirit adalah kebanggaan. Kebanggan tak perlu suku, tak perlu penghulu suku!” ketus Oytasus

“Oh… kebanggan? Ya, ya. Kebanggaan! Ini dia. Lebih baik kalian membanggakan keberanian anjing buruan Enduro yang bernama Cipilindiok. Itu anjing tak pernah gagal menerkam babi hutan. Bahkan, angku babi sebesar kerbau pun tak bisa lepas dari cengkeramannya. Cipilindiok adalah anjing buruan tiada tanding, tiada banding. Enduro sangat membanggakannya, maka ketika Cipilindiok mati, ia sangat sedih. Kemudian, ia menguburkan bangkai anjing itu bak mengubur mayat orang mati di bawah pohon beringin di kaki Bukit Paktali ini!”

***

Dengan lemas Oytasus turun dari bukit Paktali.

“Habislah aku,” gumamnya dalam hati. “Inilah konsekuensi terburuknya jika menjanjikan sesuatu yang sebenarnya tak perlu, namun demi proyek menjadi perlu. Aih, aku bisa masuk bui!” pikirnya keras.

Memang, kalau ia tak berhasil menemukan jasad Enduro, proyek TMP itu bisa diselidik komisi pemberantasan korupsi, risikonya, ya bui. Tetapi, kalau memang itu terjadi, maka bukan dia saja yang bakal masuk, tetapi semua petinggi di daerahnya akan kena, sebab ia membagi hasil proyek itu dengan adil kepada semua pihak, termasuk sang Bupati yang juga teman dekatnya.

Tiba-tiba Oytasus ingat sesuatu dan seketika itu ia berubah pikiran.

“Yang penting ada identitas Enduro untuk dikebumikan,” putusnya.

Kemudian dia bergegas ke bawah pohon beringin di kaki Bukit Paktali dan menggali kuburan Cipilindiok dan  mengambil beberapa tulang belulangnya dan membungkus, layaknya membungkus mayat.

Arsip Cerpen di Indonesia