Dari jalanan, terdengar juga klakson-klakson panjang dan nyaring, mengalahkan deru hujan. Dia makin geram. Semula niatnya tidur siang, tapi tidur siangnya terpaksa ditunda. Saat itulah dia melihat, mobil-mobil memenuhi jalanan kompleks. Lebih berserak ketimbang kontiner sampah di sudut kompleks.
Poltak bangkit, dia meniupkan peluit yang didapatnya dulu tergantung di gerbang rumah orang. Dia menyuruh satu mobil bergerak ke kiri, yang lainnya ke kanan. Dengan jeritan peluit, satu per satu mobil boleh keluar dari kesesakan. Kala itulah dia menerima selembar uang, disodorkan salah seorang pengemudi yang merasa terbantu dengan aksinya. Poltak tak mengharapkan uang itu.
Dia harapkan hanya ketenangan di sore-sore menyegarkan. Tangannya menyambar uang itu cepat-cepat, senyumnya mengembang di balik tiap tiupan peluitnya. Bagi Poltak, dia baru saja menemukan penemuan hebat dalam hidup. Uang yang selama ini susah sekali didapat, salah satu benda langka dalam hidup, ternyata bisa didapatkan dengan cara mudah.
Sebelum itu Poltak jarang berbincang-bincang dengan orang. Kalau bertemu dengannya sedang berjalan-jalan mengitari kompleks, orang-orang tak pernah menyapanya. Sekarang orang-orang di sekitar komplek mengenalnya. Tukang parkir, pegawai-pegawai di setiap toko. Pemuda sekitar yang biasa nongkrong di bundaran kompleks, atau penjual mi balap yang laris setiap pagi.
Mereka kian mengakrabkan diri dengan Poltak. Kalau tak salah, waktu itu jugalah orang-orang mulai memanggilnya Poltak. Dia tidak memperkenalkan dirinya pada orang-orang itu, tapi mereka yang membuat Poltak dikenal di kompleks. Rasa senang memuncak ke ubun-ubun tatkala semua begitu berbeda sekarang.
Setiap sore, setiap kali Poltak menyelesaikan pekerjaannya mengamankan jalanan sibuk orang-orang baru pulang kerja. Poltak singgah di food court biasa tempat dia memakai toilet gratis. Dia duduk di meja sudut, meja kantor miliknya. Dia akan mengeluarkan isi tas sandang yang penuh dengan uang hasil kerja, menyerakkannya di meja.
Baginya, uang seperti artis cantik di televisi, yang selalu menarik mata orang-orang. Yang lepek, yang kusut, yang kuning atau yang biru, uang menarik mata orang-orang. Dengan jempol yang dikecap sigap, dia meratakan uang, menyusunnya, serupa bos besar yang menghitung pemasukan.
Dia suka melakukan itu. Dia suka melirik orang-orang melihat artis-artis yang keluar dari dalam tasnya. Poltak akan memesan kopi hitam, memberikan uang tips dengan dagu terangkat pada waiter yang tak henti-hentinya memindahkan lirikannya dari Poltak ke uang di meja.