Poltak

Poltak terkesima oleh hebatnya akal pikirannya. Tukang parkir itu, pendapatannya setidaknya hanya tiga puluh ribu per hari. Satpam juga paling kuat lima puluh ribu per hari. Poltak di hari yang padat dan penuh keberuntungan, bisa mendapatkan penghasilan seratus ribu per hari.

Pernah di hari padat, dia mendapat dua ratus ribu karena pengemudi mobil barangkali keliru memberika dia pecahan dua puluh ribu dibanding dua ribuan. Belum lagi pengeluarannya yang sedikit, yang hanya cuma untuk makan dan minum saja. Tidak seperti orang-orang itu yang uangnya raup untuk keluarga mereka atau ongkos pulang.

Rasa bangga kembali menyentuh ubun-ubunnya. Dia tak lagi perduli dengan orang-orang yang mengeluarkan frasa-frasa sindiran padanya. Wajarlah, batinnya, mereka belum punya penghasilan seperti aku. Dia bangun pagi-pagi, mandi hujan kalau hujan turun,  pergi ke food court kalau mau buang air. Bekerja, menyeduh kopi waktu sore berganti malam, berkeliaran mencari-cari tempat tidur baru, tidur sambil memeluk tas sandang miliknya.

Di dalam mimpi, dia akan memimpikan artis-artis molek menjadi gulingnya. Kalau dia perlu sepatu baru, dia pergi beli di pasar obral dekat kompleks. Jika dia ingin jus, dia tinggal panggil waiter yang selalu tergiur menatapnya. Hidup Poltak sederhana, tapi penuh kebahagiaan. Dia terlalu bahagia. Sampai suatu hari dia tak terbangun dari tidurnya dan polisi menemukan tas yang isinya penuh uang.

Dua hari Poltak berpulang, baru orang-orang menemukannya di belakang ruko kosong. Dia tertidur menyamping, meringkuk serupa bayi. Senyumnya mekar, kaku. Barangkali karena senyum itulah tak ada yang menganggapnya meninggal sampai dua hari berlalu.

Orang-orang kompleks ditanyai tentang keluarganya. Tak ada yang tahu. Mereka tahu cuma Poltak, begitu panggilannya. Entah apa maknanya.

 

Mengenang Arie MP Tamba

Arsip Cerpen di Indonesia