Poltak

“Lihat itu si Poltak, polisi tak berseragam!” terdengar olehnya suatu ketika dari tukang parkir yang bergunjing di kursi plastik mereka.

Dia tahu benar bagaimana seorang polisi yang mereka sebutkan. Sosok yang paling membekas dalam hati Poltak. Dulu, dia pernah disepak seorang polisi karena tidur di teras sebuah bank. Polisi itu tinggi tegap, wajahnya bahkan berotot. Waktu bokongnya merasakan sepatu kulit polisi itu, dia langsung lari terbirit. Satu kesimpulan, polisi lebih seram dibanding pemuda sekitar penuh tato di kompleks.

Poltak tak mau disamakan dengan sosok yang begitu menakutkan. Aku bukan seorang polisi, katanya dalam hati setiap pagi. “Kami beda!”

Suatu ketika dia pergi ke spot pekerjaannya. Dia mendapati beberapa polisi hadir duluan. Mereka melakukan pekerjaan Poltak, mengatur lalu lintas supaya tidak macet. Kepalanya seakan terpukul palu yang turun entah dari mana. Poltak terduduk melihati mereka melakukan pekerjaannya. Ternyata bukan penemuanku, lirihnya. Pekerjaan itu bukan temuanku.

Waktu dia berjalan menyusuri sisi lain kompleks, terdengar lagi olehnya seseorang memanggilnya, “Poltak! Polos tak berotak!” Ternyata itu satpam pribadi seorang tajir di kompleks. Poltak tak begitu polos, baginya. Apa dia berotak? Tentu saja! Terlintas di kepalanya bagaimana dia tidak meniru polisi-polisi itu.

Dia tidak pernah sekalipun menyadari bahwa tugas polisi mengamankan jalanan. Dia hanya mengamankan jalanan, demi ketenangan di suatu sore, tanpa menduga menghasilkan uang. Pikiran untuk mengamankan jalan tanpa mengharapkan sesuatu, menandakan dia lebih berotak dari satpam itu. “Aku lebih berotak dari kau!” Hardiknya dalam hati sambil menatap tajam pada satpam yang cekikian.

Seperti angin yang datang tiba-tiba, entah dari mana asalnya, Poltak merasakan orang-orang bukannya semakin akrab pada dirinya. Justru mengolok-olok dirinya. Mengapa?

Mengapa semua orang malah mengolok-olok dirinya? Poltak tak pernah sekalipun menyinggung perasaan orang lain. Dia takkan berbicara kalau orang tak memulai terlebih dahulu. Pekerjaannya selalu dia lakukan sepenuh hati, sampai jalanan benar-benar lancar serupa sungai di pegunungan. Dia bukan polisi yang mau menyepak orang. Atau pemuda setempat yang suka meneriakkan alat kelamin mereka pada orang-orang.

Dia selalu membayar kopinya, selalu tidur di tempat yang tidak ditiduri orang lain. Dia masih dirinya sebelum dan sesudah bernama Poltak. Kalau ada yang berbeda darinya sekarang, dia selalu membawa tas sandang berisi uang. Apa uang ini yang membuat orang-orang mengejek dirinya?

Arsip Cerpen di Indonesia