Sebagai bentuk penyesalan, ia tak pernah beranjak dari tempat saat menggigit mangsa. Berhari-hari ia akan berdiam dengan tubuh tanpa tenaga. Tak makan, tak minum, dan sangat mungkin ia akan mati. Jika orang-orang yang mencari cepat menemukan, ia dalam keadaan mengenaskan. Namun jika tak ada orang yang mencari, ia akan mati kelaparan dan mengenaskan.
Sampai detik ini, tak seekor pun ular yang menggigit manusia selamat dari buruan orangorang kampung. Mereka selalu sigap dan kompak, serimbun dan selebat apa pun semak. Setelah menemukan, mereka menggiring ular itu ke rumah korban dan di sana mereka membantai ular itu hingga mati mengenaskan. Kadang-kadang mereka membakar ular itu karena menganggap akan hidup lagi setelah dilepaskan, separah apa pun kondisinya. Sebagian orang percaya ular punya obat dan cara tersendiri untuk keluar dari jurang maut yang mengerikan. Membakar adalah cara terbaik meyakinkan mereka: ular itu sudah benar-benar binasa.
Namun ini tidak terjadi pada ular yang menggigit Ibu tiga hari lalu. Sudah hampir seluruh warga kampung mencari di tempat kejadian dan beberapa tempat sekitar. Nihil. Semak-semak rimbun telah mereka bersihkan, tetapi tetap nihil. Sejak Ibu digigit hingga saat ini, pencarian tak kunjung berhenti. Mereka tetap berusaha menemukan. Ada keyakinan kuat di masyarakat, jika ular yang menggigit tak bisa ditangkap, luka korban akan parah, bahkan bisa berakibat sangat mengerikan: meninggal dunia.
Menurut penuturan Ibu, ular yang menggigit sebesar lengan orang dewasa, berwarna hitam berbelang kuning. Panjang sekitar satu meter. Ia terjatuh di semak di kiri jalan setelah Ibu kibaskan dengan kuat. Ibu tidak tahu persis saat ular itu menggigit karena saat itu matahari sudah tenggelam dan mega merah di ufuk barat memancar lembut. Ibu hanya memprediksi lewat cahaya senter yang menyorot sekilas. Setelah itu, dia terburu-buru memanggil Ayah yang sedang mencuci rumput di sungai dan terburu berangkat ke pawang ular yang berjarak sekitar 50 kilometer dari rumah.
Orang-orang berspekulasi. Ular itu mungkin sudah sangat tua dan sangat berbahaya. Mungkin jenis ular kaber macan yang sangat berbisa. Namun dari ciri yang Ibu sebutkan, sebagian waswas ia mungkin kaber kokon yang tak kalah berbisa. Orang-orang masih beradu pendapat dan berbagai kemungkinan.
Sementara Ibu meringis kesakitan dan kakinya makin membengkak, orang-orang makin sengit beradu kemungkinan dan menebak jenis ular yang telah mengigit. Setelah berhari-hari mencari dan tak kunjung menemukan ular itu, orang-orang mengajukan kemungkinan lain. Ular pangraksa.