Kamis sore itu, di tempat yang sudah tak lagi dirindangi rumpun bambu dan tinggal semak-semak kecil, orangorang berkumpul membawa nasi takir yang ditaruh di atas ancak pelepah pisang. Ada empat takir kecil berisi nasi ditumpangi pewarna merah. Di tengahtengah kerumunan digantung kulit kambing yang sudah diisi jerami, sehingga terlihat masih hidup seperti semula.
Mereka mengaji perlahan dan berbarengan. Sesepuh kampung membacakan mantra dan doa sebelum menaruh sesajen itu di berbagai penjuru. Diam-diam mereka sadar, selama ini sudah melupakan kewajiban.
Peristiwa yang menimpa Ibu bukan satu-satunya. Beberapa warga juga sudah digigit ular sebelum Ibu. Namun peristiwa yang menimpa Ibu yang paling ganjil. Tak ada jejak ular ditemukan. Itu membuat masyarakat tersadar, ular pangraksa sudah benar-benar keluar. Ular dengan kombinasi setengah hewan dan setengah makhluk halus. Ular yang dimitoskan dan tidak dianggap benar-benar ada. (28)
Catatan:
Kaber macan: sejenis ular sangat berbisa di Madura.
Kaber kokon: sejenis ular sangat berbisa di Madura, hampir sama dengan kaber macan, tetapi lebih hitam.
Pangraksa: ular yang diyakini jelmaan makhluk halus yang menjaga suatu daerah, yang menuntut warga memberikan sesajen setiap malam Jumat dan Selasa.
Gapura, Mei 2019
Khairul Umam, Sekjen MWC NU Gapura, guru MA Nasa1 Gapura. Menulis sejak di madrasah aliyah dan bergabung dengan beberapa komunitas, antara lain Komunitas Kobhung, Lentera, Kaleles, MSP, dan Biru Laut. Tulisannya dimuat di berbagai media.