Ular itu sangat jarang keluar. Ia hanya menampakkan diri pada waktu tertentu. Biasanya malam Jumat dan malam Selasa. Oleh karena itulah, orang-orang bersepakat memberi sesajen sebagai makanan setiap ia muncul agar tidak mengganggu warga dan binatang ternak. Warga meyakini ia penjaga keamanan kampung ini sejak ribuan tahun lalu. Sebagai wujud terima kasih, warga berela hati menaruh sesajen di tempat itu seminggu dua kali.
Sampai detik ini, tidak ada yang pernah melihat langsung ular itu. Hanya dari cerita ke cerita. Konon, beberapa orang melihat ia sedang melingkar di semak belukar. Sebagian orang lain melihat ia melilit rumpun bambu yang lebat di sekitar tempat ia muncul. Gerakannya menimbulkan bunyi mengertap dan sesekali berbunyi persis seperti ayam jantan yang berkokok.
Dari cerita itulah, setiap malam Jumat dan Selasa, apabila terdengar seperti kokokan ayam jantan di sekitar tempat itu, orang-orang percaya itulah ular pangraksa yang keluar dari sarang.
Ibu-ibu akan menyuruh anak-anak masuk ke rumah dan ntuk segera tidur. Orang-orang yang nongkrong di warung menjadi kaku dan terdiam lesu. Sampai detik ini tidak seorang pun berani memastikan itu ular yang dimaksud. Mereka memilih aman daripada menuruti rasa penasaran. Memang ada satu-dua orang hendak membuktikan ular itu benar-benar ada. Namun sebelum niat itu terlaksana, nyali mereka menciut karena provokasi tetangga dan teman-teman yang sangat meyakinkan dan menggetarkan nyali.
Soal ular pangraksa sebenarnya tinggal cerita. Sudah lama tak ada kokokan serupa ayam jantan dan tidak ada suara kertap bambu dilintasi ular. Mungkin sudah berbilang tahun. Hingga orangorang lupa mereka punya kewajiban setiap dua malam seminggu. Mereka lebih asyik dengan cerita masing-masing. Sebagian juga sudah tak percaya ular itu sungguh ada.
Penebangan demi penebangan dilakukan. Hampir semua rumpun bambu di tempat yang dikeramatkan sudah habis terjual. Beberapa pohon besar juga mereka tumbangkan. Kenyataannya tidak ada yang ganjil. Semua lancar dan aman. Sebagian bahkan berani mencacimaki keyakinan sesepuh tentang ular itu. Mereka menganggap itu sekadar mitos dan isapan jempol belaka.
Di warung-warung mereka berbicara lebih rasional tentang kondisi ekonomi yang makin menjepit, kondisi politik yang memanas, dan tentu berita-berita yang membuat adrenalin naik tak terkontrol. Tentu mereka tidak paham berita yang benar dan tidak. Terpenting mereka sudah mendengar dan menonton di televisi. Apalagi sebagian yang lebih berpendidikan mengompori.
***