Belakangan ini, persis ketika tiga kasus pencurian melanda desa itu, Jaka Mardio mulai diwanti-wanti untuk tak begitu terbuai dengan dunia yang banyak orang beranggapan itu adalah hal yang bodoh, sebab bagaimanapun, itu adalah hal yang bertentangan dengan dunia modern, setidaknya begitulah menurut mereka. Jangan sampai anak itu menjadi gila, katanya, tetapi bahkan sesering itu juga ia akan balik memperingati mereka dan lebih kejam daripada apa yang mereka katakan, serupa bocah yang menasihati orang dewasa. Demikianlah itu terjadi sampai suatu ketika ia mulai dipandang sebelah mata oleh banyak orang.
“Hal tersulit dari meyakini sesuatu adalah membuat kalian percaya atas kebenarannya,” kata Jaka Mardio sering.
“Tentu, begitulah yang kami pikirkan. Kau terlalu keras kepala untuk menerima kebenaran.”
“ Suatu saat nanti,” katanya, “ocehan kalian akan kubuktikan ketidakbenarannya.”
***
Pencurian itu sudah sering terjadi. Adalah yang ke tujuh kalinya desa itu menjadi korban pencurian sapi, dan yang terakhir ini adalah sapi milik Ma Imin yang dipelihara Jaka Mardio. Tapi sebetulnya baru akhir-akhir ini sapi-sapi peliharaan menjadi target pencurian, barangkali harta benda dalam rumah tak begitu beralasan lagi untuk dicuri, tak berharga lagi. Lagi pula para aparat kepolisian tampaknya lebih senang datang terlambat daripada patroli lebih lama, dan tentu, mereka akan datang manakala satu atau dua sapi telah raib dari kandangnya, sepersis pahlawan di siang bolong, menyedihkan.
Mereka, para warga, sebetulnya telah menyepakati ronda bergilir demi menangkap para pencuri itu, tentu sebelum dibikin babak belur dan dibawa ke aparat polisi. Tetapi tampaknya para pencuri itu lebih pandai daripada mereka yang meronda, sebab pernah di suatu malam mereka tetap saja kecolongan dua ekor sapi tanpa berhasil mengendus jejak pencuri itu. Dan tentu, para aparat kepolisian baru tiba setelah peristiwa itu terjadi.
“Apa kubilang,” kata Jaka Mardio, “berharap kepada aparat itu sama sulitnya meyakinkan kalian perihal dukun yang lebih menjanjikan.”
“Semoga saja peliharaanmu tak dapat bagian.”
“Katakan saja,” kata Jaka Mardio, “bahwa kalian ingin kuantar ke tempat dukun itu.”
Apa dikata, seminggu setelah peristiwa malam itu terjadi, seekor sapi peliharaan Jaka Mardio dapat bagian. Untung saja hanya seekor, entah bagaimana jadinya jika empat ekor yang lain ikut dibawa pergi, barangkali Jaka Mardio akan dikirim ke penjara oleh Ma Imin.
***