Dukun itu bernama Taweo, ia seorang lelaki tua, dibuktikan oleh rambutnya yang menyerupai warna perak dan tak lagi subur sebagaimana dahulu, berikut garis-garis ketuaan yang seolah menjelaskan telah banyak peristiwa tragis yang terjadi dalam hidupnya. Sebagaimana desas-desus yang diyakini terutama oleh Jaka Mardio, ia dikenal hebat membaca harta benda yang hilang sehebat desas-desus kakek dari kakeknya yang dibicarakan banyak orang di masa lampau. Demikian pula orang-orang berkata ia mampu mengobati orang sakit dan mengirim santet, serta tak jarang berakhir sebagaimana tugas malaikat pencabut nyawa.
Taweo tinggal di desa seberang, di sebuah gubuk kecil beratap rumbia yang bolong di sana-sini, seorang diri. Di samping ia hidup sebagai seorang dukun, tampaknya Taweo juga seorang yang lihai menanam sayur-sayuran di pekarangan belakang gubuknya; oyong dan kacang panjang serta bayam begitu melimpah hingga gubukya tampak lebih menyerupai rumah kebun daripada sebuah rumah pada umumnya, setidaknya di desa itu. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke gubuknya. Oleh warga terutama di desa itu, secara umum disepakati bahwa berjalan kaki selama tiga jam adalah jarak yang dekat, tak jauh. Lagi pula tak ada rintangan yang berarti, cukup melewati sungai panjang yang membelah dua desa dengan jembatan kayu mahoni di atasnya. Demikianlah Jaka Mardio mendatangi Taweo dengan sikap sempurna seperti tak terjadi apa-apa.
***
Senja ketika Jaka Mardio tak juga pulang, sebagaimana yang ia janjikan bahwa tak akan lama ia akan segera kembali beserta sapi yang hilang subuh tadi, Ma Imin dan beberapa warga ambil sikap untuk segera menyusulnya. Di benak mereka terbentuk satu asumsi bahwa anak itu malu untuk pulang, tak pulang juga malu. Serba salah.
Setiba mereka di jembatan kayu mahoni, Jaka Mardio tampak duduk termenung dan tak berselera di atas jembatan itu. Mukanya sepucat anak kecil yang belum makan seharian penuh, tergambar seolah ia meminta belas kasihan yang serius. Beberapa orang menyangka ia barangkali akan bunuh diri.
“Katakanlah apa yang mesti kudengar,” kata Ma Imin.
Jaka Mardio sekonyong memeluk kedua kaki Ma Imin. Ia berkata, maaf, dan menyesali semuanya. Tak lama kemudian ia mengingat pertemuannya dengan Taweo, itu pula yang ia ceritakan kepada Ma Imin termasuk kepada warga.