“Ya Allah,” ucapnya ketika melihat seorang bayi menangis, yang diletakan di dipan reyot yang berada di depan rumahnya.
Aminah segera meletakan pakaian kotor yang ia bawa di atas meja. Aminah segera melihat keadaan bayi itu, dan mengendongnya.
“Kenapa kamu ada di sini nak?” Tanyanya dengan menimang bayi itu agar berhenti menangis.
Pertanyaan itu hilang bagaikan angin yang tergantikan oleh suara tangisan bayi yang semakin kencang. Aminah segera berjalan ke sekitar rumahnya, untuk mencari tahu siapa yang telah meletakan bayi itu di rumahnya. Namun, tak ada satu orangpun di sekitar rumahnya. Hanya ada hewan-hewan yang berkeliaran di rumahnya. Aminah segera kembali ke teras rumahnya. Mencari-cari surat yang mungkin ditinggalkan oleh orang tua bayi itu dalam tas yang diletakan di atas dipan. Tidak ada surat yang ditinggalkan.
“Malangnya nasibmu, nak. Kenapa orang tuamu tega meninggalkanmu di sini?” Bisiknya pelan memperhatikan bayi yang sudah berhenti menangis dan kini tertidur dalam dekapannya.
Aminah segara membawa masuk bayi itu, meletakannya di atas kasur kapuk keras yang biasa dipakainya untuk istirahat dan menyelimutinya. Setelah itu, Aminah kembali keluar untuk membawa tas bayi yang ditinggalkan juga pakaian kotor yang harus ia cuci. Aminah segera merendam pakaian kotor dalam ember yang telah ia isi dengan air di belakang rumahnya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan bayi itu dan kembali memeriksa tas yang ditinggalkan. Hanya ada beberapa pakaian bayi dan beberapa kain untuk membedong bayi. Tidak ada hal lain yang ia temukan. Tidak ada botol susu untuk minum bayi itu. Tentu saja Aminah tidak memiliki botol susu. Ia hanya tinggal sendirian dan tidak ada yang membutuhkan botol susu. Ia juga tidak bisa membeli botol susu selain tidak punya uang, toko yang menjual botol susu cukup jauh dari rumahnya.
Aminah segera berlari ke dalam rumahnya ketika mendengar suara tangis bayi. Ia segera menimang bayi tersebut agar tidak menangis, tetapi bayi itu terus menangis. Aminah segera mengambil gelas yang sebelumnya sudah ia isi dengan air tajin dan sendok.
“Aku hanya punya ini untukmu, nak. Jangan menangis lagi.” Ucapnya, menyuapi air tajin itu dengan telaten. Ia menatap bayi itu dengan penuh kasih sayang. Bayi itu sudah seperti cucunya, ya kalau ia mempunyai cucu pasti akan secantik bayi yang sedang ia gendong.