Ketika bayi itu sudah kembali tidur, Aminah segera menyelesaikan cuciannya dan melanjutkan menyetrika baju yang sudah kering. Kemudian Aminah akan mengantarnya ke rumah tetangganya saat sore hari.
Dengan membawa setumpuk pakaian kering di punggungnya dan menggendong bayi, Aminah berjalan dengan perlahan menuju rumah tetangganya. Awalnya Aminah ragu untuk membawa bayi itu pergi ke luar, namun jika ditinggal di rumah sendirian tidak ada yang menjaganya, dan mungkin saja ada tetangganya yang melihat orang tua bayi itu.
“Assalamualaikum, Bu Salma.” Ucapnya ketika memasuki halaman rumah tetangga yang ia tuju.
“Waalaikumsalam, Bu Aminah.” Ujar Salma membalas salam Aminah. Segera meletakan sapu yang sedang ia pegang dan membantu Aminah meletakan pakaian bersih di atas meja. “Itu bayi siapa, bu?” Tanyanya penasaran pada sosok bayi yang digendong Aminah, karena setahunya Aminah tidak memiliki bayi.
“Saya juga tidak tahu, tadi pagi dia ada di dipan rumah.” Jawab Aminah, memperhatikan bayi itu yang sedang membuka matanya.
“Ya, Allah. Masih saja ada orang yang tega membuang anak” Ujar Salma prihatin, zaman sudah begitu maju namun masih ada saja orang tua yang membuang darah dagingnya sendiri.
“Saya juga tidak tahu Bu Salma, saya ingin merawatnya namun saya tidak sanggup untuk membelikan susu dan kebutuhan lainnya.” Ucap Aminah, memikirkan hal itu membuat kepalanya sakit. Ia ingin merawat bayi itu tapi keadaannya sangat tidak memungkinkan.
Salma sebenarnya ingin membantu, tapi ia tidak bisa membantu banyak. Tidak ada anak kecil di rumahnya, jadi ia tidak bisa memberikan barang-barang yang dapat digunakan untuk bayi itu. Keadaan ekonominya juga sedang tidak begitu baik, ia hanya bisa melebihkan sedikit bayaran mencuci kepada Aminah.
Sudah dua minggu lebih Aminah mengasuh bayi itu dengan keadaan terbatas. Bayi itu hanya minum air tajin yang setiap hari ia buat, Aminah masih belum mampu untuk memberikannya susu, terkadang bayi itu hanya minum air putih jika ia sedang tidak mempunyai beras untuk dimakan. Tidak ada tanda-tanda kedatangan orang tua bayi itu, tidak ada juga orang asing yang mencari bayi ke rumahnya. Sekarang sebagian orang di desa sudah tahu kalau ia sedang merawat bayi, tetapi tidak ada yang bisa membantunya. Kerena semua orang memiliki kesibukan dan masalahnya sendiri. Setiap hari ia selalu berdoa agar orang tua bayi itu terketuk pintu hatinya dan mencari anaknya yang sudah ditinggalkan. Aminah tidak tega melihat bayi itu yang hanya meminum air tajin dan air putih biasa, terkadang Aminah juga membuatkannya bubur cair yang sepertinya masih terlalu awal untuk dimakan oleh bayi itu, umur bayi itu bahkan belum ada 5 bulan.