Setelah memikirkannya selama beberapa hari akhirnya Aminah memutuskan untuk menyerahkan bayi itu ke sebuah panti asuhan yang ada di desa sebelah. Aminah sudah tidak sanggup lagi merawatnya, bayi itu berhak untuk mendapatkan nutrisi yang lebih baik. Aminah tidak bisa memberikannya dan berharap di panti asuhan nanti bayi itu akan mendapatkan nutrisi yang cukup. Sebelumnya Aminah sudah melaporkan masalah ini pada ketua RT di desanya, namun tidak ada pergerakan dari ketua RT.
Setelah melaksanakan sholat Subuh Aminah segera mempersiapkan barang-barang yang dari awal dibawa oleh bayi itu, memasukan semuanya ke dalam tas. Setelah itu, Aminah saegera menggendong bayi itu dan membawanya keluar. Perlu waktu lama untuk sampai di desa sebelah, sesekali Aminah berhenti untuk beristirahat di bawah pohon rindang yang bisa menutupinya dari sinar matahari.
“Setelah ini kau akan mendapatkan tempat yang lebih baik. Tumbuhlah menjadi anak yang sholehah, pintar, baik. Nenek akan selalu mendoakanmu.” Ucapnya mengelus kepala bayi yang sedang tersenyum itu, seakan mengerti akan perkataannya.
Aminah melanjutkan perjalanannya yang masih jauh. Dengan perlahan ia menjauh dari desanya dan masuk ke desa sebelah. Sesekali ia bertanya letak panti asuhan pada orang yang ditemuinya. Tidak jauh lagi, ia akan sampai. Tetapi langkahnya terasa berat, ia masih belum ingin berpisah dengan bayi yang digendongnya.
“Ini yang terbaik untukmu. Kau akan lebih nyaman tinggal di sini.” Ucapnya sebelum mengetuk pintu panti asuhan yang terlihat cukup besar.
Seorang berkerudung putih menyambutnya dan menanyakan keperluan Aminah. Ia menjelaskan keperluannya dan alasan mengapa ia akan meninggalkan bayi itu di panti asuhan. Pegawai panti asuhan itu menerima dengan baik maksud dari Aminah, ia mengambil bayi itu dari Aminah. Bayi itu langsung menangis seakan mengerti kalau ia akan ditinggal oleh Aminah. Setelah menyerahkan bayi itu dan perlengkapan yang ia bawa, Aminah segera pergi dari panti asuhan itu diiringi oleh tangisan bayi itu yang belum berhenti.