Nenek Gosem Ingin Membunuh Sengkuni

Mobil hitam itu kemudian pergi dan hilang di ujung jalan. Nenek Gosem tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mobil hitam itu tancap gas meninggalkannya. Ia kembali ke rumah dengan sumpah serapah yang terus dirapalkan. Aku masih melihat itu semua dari halaman rumahku.

***

Nenek Gosem kini tinggal seorang diri. Dalam umur tua, ia mestinya merasakan kehangatan keluarga, namun ia malah merasakan kesepian melanda. Mungkin rasa sepi itu menikam-nikam teramat dalam. Aku bisa memahami itu semua karena kehidupan Nenek Gosem sudah menjadi perhatian utamaku. Aku pun tidak akan menceritakan ini kepadamu kalau aku tidak memiliki kesan yang kuat dengan perempuan tua itu. Dalam diam, ia telah kuanggap sebagai nenek kandungku sendiri. Akan kuceritakan tentang Nenek Gosem ini padamu.

Kalau ia melihat ada orang-orang tambang pasir lewat di sekitar rumahnya, ataupun ketemu di luar sana, maka ia akan meradang-radang seperti kemasukan hantu, hilang semua perasaan sepinya dan bertukar dengan rasa dendam. Ia akan marah-marah tanpa bisa mengendalikan diri. Ia akan mencaci-maki orang-rang itu dengan bahasa-bahasa tidak sedap di telinga.

“Anjing!”

“Bangsat!”

“Pergi dari tanah ini! Kamu bukan leluhur kami. Kamu tidak berhak membunuh orang di sini. Kamu tidak berhak membunuh keluargaku. Aku bukanlah budak di tanah ini. Kamu lebih kejam daripada Belanda!”

Perkataan seperti itu sering diteriakkan oleh Nenek Gosem ketika ia bertemu dengan orangorang tambang pasir di kampung kami. Mungkin ia sudah tidak takut lagi terhadap risiko yang berbahaya. Kadang-kadang ia bisa lebih dari itu, ia bisa berhasrat kuat membunuh mereka yang ia sebut Sengkuni itu. Ketika hasrat tersebut datang, maka ia akan mengejar dengan parang, ia berharap bisa menuntaskan segala dendamnya.

Sewaktu dulu, ketika aku masih kecil, Nenek Gosem tidak pernah seperti saat sekarang. Dulu ia dikenal sebagai perempuan ramah dan baik hati, tabah menahan penderitaan, kuat menepis risau, dan kadang-kadang ia mampu menyulam rasa sakitnya sendiri. Aku tahu semua itu karena nenekku pernah bercerita bahwa Nenek Gosem itu adalah perempuan desa paling baik hati dan paling tangguh menahan nestapa.

Arsip Cerpen di Indonesia