Hari ini, satu bulan setelah Nenek Gosem mengejar mobil hitam Pak Bruno dengan parang, telah terjadi sebuah kematian. Sekarang Nenek Gosem sudah tidak ada lagi. Ia telah menyusul keluarganya ke alam sana. Ia telah menyusul sahabat baiknya, nenekku, ke alam kekal. Meskipun kematian sudah tentu memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Tapi kematian Nenek Gosem ini sungguh-sungguh menyedihkan. Ia ditemukan tergeletak oleh seorang warga desa kami di kebun jagung miliknya sendiri. Kamu bayangkan saja bagaimana kalau kita dibunuh di tanah milik kita sendiri. Bukankah itu sebuah perbuatan jahanam?
Ketika itu aku tidak percaya dengan apa yang telah disampaikan oleh seorang warga kepadaku. Namun, karena melihat keseriusan dan ketegangan pada raut mukanya, aku pun bergegas menuju ke kebun jagung milik Nenek Gosem, lokasi yang disebut oleh orang itu. Ketika aku sampai di sana, ternyata baru ada beberapa orang warga di tempat kejadian. Aku langsung menyerocos di antara mereka. Dan sungguh aku merasa ngeri untuk menceritakan ini kepadamu.
Nenek Gosem mati disembelih. Lehernya menganga dan hampir putus. Perutnya pun dibantai dengan senjata tajam. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, pada saat itu, hampir semua isi perut Nenek Gosem keluar. Namun, ada satu hal lagi yang tidak bisa kusampaikan padamu. Biarlah itu menjadi rahasia bagi orang-orang yang melihatnya langsung dengan mata kepala mereka masing-masing. Rahasia itu adalah sebuah ancaman yang sombong.
Harus kusampaikan juga sesuatu di balik kematian Nenek Gosem itu: satu minggu sebelum kejadian, Nenek Gosem sudah mengumpulkan cukup bukti tentang kematian suami dan tiga orang anak laki-lakinya. Suami dan tiga orang anak laki-lakinya itu dibunuh karena terlalu bersemangat mengajak warga untuk mempertahankan lahan warga yang dijadikan tambang pasir di kampung kami ini. Itulah yang menyebabkan mereka mati dibunuh. Nenek Gosem berencana untuk membawa bukti-bukti ke pengadilan. Namun, karena di desa kami tidak ada pengadilan, maka Nenek Gosem harus pergi ke kota untuk melakukannya. Oleh karena itu, setiap hari ia selalu bekerja keras di kebun jagung miliknya karena ia mesti mengumpulkan uang untuk pergi ke kota. Ia pun memanen jagung miliknya, padahal belum semua jagung di kebun itu bisa dipanen.
Hari ketiga ia memanen jagung di kebun, sampai malam ia tidak balik-balik ke rumah. Aku tahu ketika itu Nenek Gosem tidak balik ke rumahnya, namun aku tidak tahu kemana ia pergi. Dan keesokan harinya barulah seorang warga menemukan tubuh Nenek Gosem terkapar mengerikan di kebun jagung miliknya sendiri. Nenek Gosem tewas dengan cara dibantai.
Ahmad Anif Alhaki lahir di Sibintayan, Pasaman Timur, Sumatera Barat. Saat ini sedang kuliah di Bali.