Perlu kukatakan kalau nenekku dan Nenek Gosem bersahabat dari kecil. Ketika mereka sudah tua, mereka kerap bertukar cerita. Aku kerap melihat mereka kongkow-kongkow di pelanta depan rumah nenekku. Kadang-kadang aku ikut pula mendengarkan cerita mereka berdua, padahal aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan. Wajar saja, ketika itu aku masih berumur sekitar enam tahun dan tidak mengerti banyak perkara orang tua.
Suatu ketika, aku pernah bertanya kepada nenekku. Aku menanyakan tentang Nenek Gosem yang menurutku adalah perempuan tua yang pendiam. Aku juga bertanya tentang bagaimana hubungan di antara nenekku dengan Nenek Gosem. Aku tidak terlalu ingat betul tentang cerita kami ketika itu, namun garis besar cerita tersebut, aku masih ingat. Akan kusampaikan kepadamu, nenekku pernah mengatakan kira-kira begini:
“Kalau tak bersama aku, Nenek Gosem itu, biasanya, tidak mau bercerita. Ia akan menyimpan rahasianya sendiri. Ia tidak mau bercerita dengan siapa-siapa kecuali denganku. Aku pun tahu persis mengapa ia bisa begitu.” sahut nenekku di suatu sore saat aku bertanya mengenai Nenek Gosem.
“Ketika kami masih kecil, Nenek Gosem sering mengajakku jalan-jalan di kebun jagung milik bapaknya. Kami akan bercerita tentang kebun jagung yang subur, kualitas buah yang bagus, dan hasil panen yang melimpah. Hubungan kami sangat dekat, bahkan aku dan Nenek Gosem bagaikan saudara kandung.” tambah nenekku kala itu.
Namun, setelah nenekku meninggal dunia, Nenek Gosem tidak memiliki sahabat lagi tempat menumpahkan rasa. Ia kerap melamun menyusupi kebun warisan bapaknya dengan tatapan mata kosong. Kebun itu berada di sebelah utara rumahku dan berada di sebelah barat rumah Nenek Gosem. Kebun itu tidaklah luas. Aku kerap melihat ia melamun sendirian di samping rumahnya sambil memandangi kebun jagungnya dalam-dalam.
Ketika ia melamun begitu, aku sering mendatangi Nenek Gosem, paling tidak untuk mengajak ia bercerita tentang apa saja. Namun, setiap kali aku ke sana, ia tidak akan bercerita panjang kali lebar, ia akan menjawabku sekadarnya saja. Aku sangat mengerti kalau diriku ini tidak bisa mengajak dia berbicara banyak perkara meskipun aku terus berusaha.
Begitulah kira-kira yang perlu kuceritakan padamu. Aku selalu tertarik dengan cerita dia. Mungkin kamu juga begitu. Kamu harus tahu cerita ini karena kamulah satu-satunya anak Pak Bruno yang kerap menolong orang-orang susah. Dan cerita ini adalah kepedihan manusia karena kelakuan ayah kandungmu.
***