Walau pun di kampung ini aku dan dua temanku sama sekali tak dihargai dan sering dijadikan sebagai contoh buruk bagi anak-anak mereka yang malas bekerja, namun di luar kampung kami disambut dengan hormat. Tentu tidak aneh, sebab penampilan kami di luar kampung lebih mirip saudagar-saudagar kaya daripada penganggur dan pemalas.
Bagaimana tidak, hasil zakat dari panen yang melimpah ditambah sumbangan pejabat dan pedagang di kampung setiap tahun melebihi dari cukup untuk bekal hidup kami sampai sepuluh tahun ke depan. Jika sudah begini, untuk apa kami bekerja? Untuk menumpuk kekayaan? Buat siapa? Buat jadi rebutan anak cucu yang saling mengasah parang? Bahkan sebelum tanah kuburan kami sendiri kering? Agar mereka berperang sebelum malaikat habis bertanya dari mana harta itu kami dapat? Tidak! Kami akan tetap menganggur. Mungkin selamanya.
***
Seperti biasa, aku, si Beut dan Beunu memulai pagi dengan bermain dadu di sebuah rangkang ujung kampung. Di depan kami hamparan sawah membentang luas. Sekumpulan pipit berkepala putih terbang meliuk dan kemudian menyambar batang-batang padi untuk mencuri beberapa biji buliran kecil yang masih lunak. Mereka tidak mencuri banyak, hanya sekadar menyumpal perut yang ukurannya lebih kecil dari jempol bayi. Setelah kenyang ia pun terbang dan kembali esok hari. Tidak seperti cecungkuk berdasi yang mencuri aspal, semen, batu-bata, kerikil, pasir, tiang jembatan, kubah masjid dan entah apa lagi. Mereka mencurinya berkarung-karung untuk dimakan tujuh turunan. Tapi, pipit tidak melakukan itu.
Sementara pipit terus terbang dan turun sembari menyapa angin yang melambai, aku dan dua temanku masih saja larut dalam permainan dadu. Ini hanya permainan pengisi waktu dan tentu saja kami tidak berjudi, sebab berjudi akan membuat kekayaan kami semakin menumpuk. Dan ini berbahaya.
Matahari telah meninggi. Si Beut dan Beunu terlihat mulai menguap. Kemudian keduanya merebahkan tubuh di rangkang beralas bambu. “Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa sebaiknya kita keluar saja dari kampung ini, mencari kampung lain yang lebih damai?” Beunu mengajukan pertanyaan padaku sembari tangan kanannya mencoba menutup mulutnya yang terbuka lebar. “Ya, di kampung ini kita hanya menjadi bahan olok-olok yang selalu saja dipandang sinis,” tambah si Beut sambil matanya melirik ke arahku.
“Tidak mungkin,” aku coba menimpali kedua temanku. “Nanti siapa yang akan menggali kubur ketika ada orang yang mati? Apa kita akan membiarkan jasad mereka dimakan burung? Bukankah pekerjaan ini telah menjadi bakti kita selama bertahun-tahun? Ketika salah satu dari mereka mati sementara yang lainnya sibuk bekerja di sawah, padang rumput dan di kota sehingga kampung menjadi sepi, bukankah kita yang mengurusi semuanya?