Kami terus berkeliling dengan mata menyisir ke kiri dan kanan. Setelah memastikan kondisi kampung benar-benar aman kami pun menuju utara. Aku dan si Beut merebahkan badan sejenak sementara Beunu berjaga-jaga sembari memasang telinga. Dia tidak boleh lelap, sebab sedetik saja matanya terpejam, petaka akan datang seketika.
Hari sudah siang. Matahari bersinar dengan terik. Tidak ada angin yang berembus meskipun rangkang dikelilingi hamparan sawah. Cuaca panas membuat aku dan si Beut terjaga. Sekarang giliran Beunu istirahat, tapi dia menolak. “Aku masih kuat,” kata Beunu dengan gagah sambil memegang karung yang dilipat.
Baru saja kami akan menggelar dadu sebab yakin suasana kampung masih aman, tiba-tiba saja asap membumbung tinggi dari arah barat disertai lidah api yang menjalar-jalar. Tanpa menunggu komando, Beunu berlari cukup kencang seolah kakinya tak menyentuh tanah. Setelah hilang beberapa menit Beunu pun kembali dengan napas terengah. “Rumah Haji Kasim terbakar.” Mendengar suara Beunu, aku dan si Beut pun melompat dari rangkang mencari benda apa saja yang bisa menampung air. Aku menemukan jeriken tua, si Beut botol aqua dan Beunu mencoba memasukkan air ke dalam karung.
“Ayo para penganggur, kita padamkan api itu!” Setelah memberi aba-aba aku pun memacu kaki kecilku tanpa peduli pada kerikil yang menusuk. Di belakangku si Beut dengan sigap mengikuti. Dan di belakang lagi tampak Beunu yang masih sibuk menuang air ke dalam karung yang tak pernah penuh.
Bireuen, 16 Juli 2019
Tin Miswary, pemulung buku tua.