“Kalian tentu ingat ketika rumah Haji Kasim dimasuki pencuri, bukankah kita yang menangkap pencuri itu ketika semua warga telah lelap dalam tidurnya? Kalian ingat ketika janda Maryani ingin diperkosa, kita pula yang menyelamatkannya. Ketika kandang-kandang besar itu hampir habis dilalap api kita juga yang memadamkannya, sementara warga lain sibuk dan larut dalam pekerjaan mereka masing-masing.”
Mendengar ceramahku si Beut dan Beunu mencoba bangkit dan duduk bersandar di dinding rangkang. Mata keduanya mengarah padaku. “Ya benar, status pengangguran telah memberikan waktu yang cukup banyak bagi kita untuk menolong orang-orang. Kita selalu hadir di saat orang-orang terlihat sibuk,” kata Beunu sambil mukanya berpaling ke arah si Beut yang kemudian mengangguk.
“Entah bagaimana jadinya kampung ini jika kita bertiga ikut bekerja seperti mereka.” Setelah mendengar kalimat penutup dari si Beut, kami bertiga pun kembali rebah dan memejamkan mata untuk beberapa saat ditemani semilir angin dari utara.
***
Hari ini di kota akan digelar pesta besar. Perkawinan putra Haji Kasim dan putri Ampon Baka. Karena tamu yang diundang ribuan orang, acara itu tidak mungkin dilangsungkan di kampung. Itu artinya seluruh warga kampung akan berangkat ke kota memenuhi undangan. Hanya kami bertiga yang tidak kebagian undangan karena stempel penganggur dan pemalas masih menancap kuat di jidat kami. Dengan demikian kami tidak layak mendapat undangan.
Pukul sepuluh pagi, kampung sudah kosong. Orang-orang telah pergi. Mereka akan berpesta-ria di kota. Kami melempar pandang ke utara, menyaksikan hamparan sawah yang sepi dan padang rumput yang lengang. Di bagian timur dan barat terlihat rumah-rumah mewah seperti kuburan. Sementara di selatan kandang-kandang besar riuh dengan gemuruh suara binatang yang terkurung.
“Hari ini kita tidak bisa bermain dadu,” kataku pada si Beut dan Beunu. “Kalian ingat lima tahun lalu kampung ini dimasuki perampok sementara kita sedang asyik bermain dadu di gubuk. Untung saja kita disadarkan oleh teriakan ayam dan itik yang marah sehingga perampok itu dapat kita usir sebelum warga kembali ke kampung ini.”
Setelah memberi arahan kepada kedua temanku, kami pun berkeliling kampung. Aku membawa rotan panjang, si Beut menggenggam parang pendek dan Beunu membawa karung. Seperti lima tahun lalu, ketika ada kawanan perampok aku yang lebih dulu maju menggertaknya dengan rotan. Jika perampok terus membandel, maka giliran si Beut yang akan mengancam dengan parang. Tapi bila dua cara itu tidak mempan, kami akan menyergap mereka dan memasukkannya ke dalam karung yang dipegang Beunu. Dan si perampok akan menemukan keabadiannya dalam karung yang kami lempar ke sungai.