Empat laki-laki paruh baya dengan kaki telanjang melintas di seberang rumahnya, memanggul karung penuh rumput, dan arit di tangan dikepal erat. Saat menuruni anak tangga, dia langsung menunduk karena tatapan sinis mereka kepadanya. Mereka penduduk desa dari kaki bukit, setiap siang menyusuri setapak jalan di antara ladang-ladang yang terbengkalai di bawah sana, dan menyabit rumput di belakang kompleks militer itu untuk pakan domba dan kuda. Tapi mereka sudah dicap sebagai pencuri, bahwa mereka suka menimbun ayam dan sandal di dalam karung itu. Jangan pernah berkawan dengan mereka, kata tetangganya. Anak-anak kompleks hanya diberitahu itu saja dan harus mematuhinya. Anehnya, di lingkungan sendiri tak boleh terlihat akur, sementara di sekolah mereka mesti berbaur. Tak jarang perkelahian kecil terjadi dan tak dapat disesalkan karena sudut pandang orangtua masing-masing.
Dua blok dari sebelah rumah muncul seorang tetangga yang punya kebiasaan ingin tahu yang besar. Selintas menanyainya, lalu memilas ke dalam menyapa ibunya dari ambang pintu. Lagi masak apa? Setelah ada percakapan di dalam, dia kemudian pergi diam-diam. Ibunya pasti sedang diliputi rasa sungkan berjam-jam ke depan, sehingga tak akan sempat mencarinya. Tapi setiap beberapa meter dia masih berbalik untuk memastikan sampai di simpang jalan, kemudian belok kiri, dan kaleng kelerengnya dipeluknya kuat-kuat. Orang-orang berdiri berjejalan di depan rumah itu, menutupi sepasang jendela tinggi dan pintu yang menganga. Suara mengaduh dan makian terdengar hingga ke luar. Dia lalu menyelinap ke sela-sela kerumunan itu, tak ada larangan bagi anak-anak di situ.
Di ruangan yang berdebu itu seorang laki-laki tanggung duduk di kursi besi teralis, dan di sejajaran lututnya ada sebuah meja dialasi tripleks. Kualitas kedua perabotan itu terlihat buruk dari tiap siku yang dilas asalan. Orang-orang masuk bergantian, berdada tegap dan lingkar otot yang telah ditempa beban dan perintah. Mereka membentaknya dengan aksen lokal yang kasar. Wajahnya yang sudah lebam dipaksa menengadah meski perutnya ditekuk karena menahan hantaman kaki, kepalan tangan, dan helm, sementara pergelangan tangan dijerat tali jemuran di belakang sandaran kursi.
“Ngaku kowe!”
“Ngaku siah!”
“Kau yang mencuri pisang, ya?”
“Curi kambing juga, hah?”
“Sendal, ayam juga!”
“Apa lagi yang kau curi?”