“Dari mana saja kau,” wajah anak itu tampak kusut. “Kau kenapa?” lanjut ibunya.
Anak itu tak membalas satu kata pun, langsung menyelinap ke kamarnya, menutup pintu, berbaring miring di atas tilam tipis yang dialasi tikar. Ibunya cemas anaknya mendadak pendiam, dia tanggalkan pekerjaannya di mesin jahit, sehelai kain masih melekat di mata jarum itu. Seutas meteran menggantung meliuk pada tengkuknya membentuk lengkungan ladam. Dia tepuk-tepuk sisa benang guntingan yang melekat di pakaiannya sambil berjalan mendekati kamar anaknya. Terdengar bunyi kertak pintu dibuka.
“Kau belum makan tadi siang. Tidak cukup cuma sarapan di sekolah. Cepat ambil piringmu sana, nanti perutmu sakit,” ibunya pelan membujuk dari ambang pintu.
Azan ashar mengalun dari masjid kompleks yang berada jauh di bawah sana. Beberapa orang dalam sebuah percakapan melintas di luar rumah, agak sayup-sayup. Ibunya masih menunggu hingga dia bangun dari tilamnya. Anak itu mendekat dan memeluk. Ibunya memegang pipinya sambil mengamati wajah anaknya. Mukamu murung sekali. Kalau begitu kau mandi dulu, baru makan, ya? kata ibunya. Anak itu mengangguk, lalu mengambil sehelai handuk dari gantungan di balik pintu.
Sedari tadi dia belum mau menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Rambutnya masih agak basah, duduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dengan menekuk kedua lututnya. Satu telapak tangan menahan pantat piring, sedangkan tangan lainnya lambat menyuapkan nasi dan lauk ke mulutnya, karena bayang-bayang wajah lelaki itu membuatnya sesekali melamun. Tak lama kemudian dua saudara perempuannya pulang. Yang kurus baru kelas 1 SMA, satunya lagi kelas 3, dan mereka mesti menempuh sekolah dengan dua kali menumpang kendaraan umum. Meski suasana rumah berubah jadi ramai oleh percakapan mereka, dia masih tetap sesekali melamun.
Setelah azan ashar tadi, sebuah kabar duka menyusul dari pelantang masjid. Tetangga dari dua blok sebelah dengan gerakan gesitnya hendak menyelonong ke dalam rumah. Ibunya lalu menyambut suara tetangga itu di pintu, menahannya agar tak berlama-lama bertandang seperti siang tadi.
“Bu, bu, bu…. ada warga yang meninggal di blok bawah!”
“Astaga!” kaget ibunya.
“Tahu enggak, Gara-gara mencuri satu tandan pisang dari kebun Pak Tono, anak muda itu dihajar sampai mati.”
“Benarkah?”
“Ih, kalau saja orang di masjid mengabari siang tadi ada pencuri lagi dihakimi, pasti saya tidak ketinggalan.”