Pencuri adalah hama. Di mana-mana nasib pencuri pasti berujung mengenaskan. Seperti celeng yang dikeroyok segerombol anjing pemburu di arena berlumpur. Orang-orang yang hidupnya dibayangi kebosanan butuh hiburan semacam itu. Dan mereka yang melaratlah menjadi korban. ‘Jangan sampai kelaparan membikin kau bodoh,’ anak itu teringat cerita abangnya. Kebanyakan tentang hal-hal buruk di luar sana: seorang pencopet di bus, penjambret tas dan kalung perhiasan, hingga perkelahian para preman di terminal. Tapi dia merasa senang karena cara abangnya yang humoris saat menuturkan. Sejak peristiwa kerusuhan di kota yang menyerbu pertokoan milik etnis Cina, mereka sekeluarga lalu pindah tanpa diketahui abangnya, seluruh perabotan serta pakaian dibuntal dengan kain-kain gorden. Selama satu bulan dia pun tak pernah lagi bertemu abangnya.
Satu pertanyaan disusul hantaman keras. Tak ada gunanya bicara. Dan tak seorang pun mau melerai penganiayaan itu. Kemarahan terus menyulut. Justru kerumunan orang di luar menyorakinya, seolah mengalami kerugian yang sama. Makanya jangan mencuri, ya! kata orang di sebelahnya. Anak itu tak memedulikannya, anak-anak lain juga. Pandangannya masih ke lelaki itu.
Keadaan makin tegang, salah satu kaki meja diletakkan di punggung kaki lelaki itu, dan saat diduduki meluapkan rintihan yang menyayat, sambil bibirnya dijepit mulut tang. Ampun, Pak! Hanya itu diulang tanpa henti dengan sisa tenaganya. Satu orang lagi masuk mengambil alih, membawa gulungan wayar berkulit hitam merah, mencocokkan ujungnya yang terkelupas ke steker dan ujung lainnya dilekatkan ke mulut lelaki itu hingga mengejang. Suara lelaki itu melemah, tertunduk disertai darah kental yang meleleh.
Dari balik kerumunan, seorang gadis menerobos ke dalam. Suara tangisnya meledak. Dipeluknya lelaki yang sekarat itu dengan segenap kepiluan, menjeritjerit ke muka semua orang di sana, lalu jatuh terduduk, mendongak sambil memegangi kaki si penganiaya. Bayangan ajal seakan tampak mencolok pada seragam gadis itu yang berlumuran darah. Dia adik perempuan pencuri itu, kan? Orang-orang yang berdiri di balik kaca jendela dan ambang pintu saling berbisik, dan mencibir tanpa belas kasih sedikit pun. Suasana itu persis seorang anak saat memohon kepada ayahnya karena berbuat salah, dan hanya anak itu yang tersentuh hatinya hingga meneteskan air mata.
Amarah kedua lelaki penganiaya itu sedikitsedikit surut. Tambah lagi ketika nenek dari gadis itu masuk, mengajaknya pulang. Suara kasak-kusuk pun berangsur tenang. Dia menggeleng agak menolak. Biarkan saja, sudah terlanjur, Nak! Setelah nenek itu berkata, mereka keluar sambil berangkulan. Isak tangis masih mengalun tersendat-sendat hingga di tikungan jalan lain lesap. Salah seorang mengangkat dagu lelaki itu, memastikan, lalu menarik tangannya kembali sehingga kepala lelaki itu terkatung-katung tak berdaya. Cepat bawa ke rumah sakit, lanjutnya dengan nada lega. Orang-orang mulai agak panik, merasa aneh dengan gerak-gerik raut salah satu penganiaya itu seakan kebingungan, hingga tergesagesa keluar dan membalap sepeda motornya untuk menjemput mobil ambulans. Orang-orang satu demi satu berbalik dan bubar setelah mendengar dengung sirene.