Dungu

Epi duduk manis di atas batu yang terlihat seperti manusia terkutuk dalam posisi rubuh. Pendeta itu meletakkan tangan kirinya di atas kepala Epi. Tangan kanannya tegak di depan wajah lalu menyongsong langit. Mulutnya masih komat-kamit menjentikkan partikel-partikel. Aku sendiri tidak tahu apakah harus menyebutnya mantra atau sekedar kata-kata. Kata mereka, mantra bukan sekadar kata-kata, melainkan ada kekuatan di dalamnya.

Karena aku bukan orang yang gampang percaya terhadap sesuatu, aku memilih memperhatikan saja. Oh iya, sebenarnya aku yang membawa Epi. Epi seperti orang sakit. Semacam introver celaka yang terlalu terkungkung dengan kesepian dan kesendirian. Solusi bergaul tak pernah berhasil, maka apalagi kalau bukan dirajah.

Dirajah dengan kata-kata ialah resep yang harus dicoba.

Sesekali pendeta itu mengubah posisi telapak tangan kanannya menghadap ke pohon, lalu mendekatkan ke mulut dan sekilas ia menyembur. Semburannya bukan api, bukan pula air, dan kupikir bukan pula sesuatu karena aku tidak melihat apa pun di sana.

Setelah kupikir-pikir, jika dilihat dengan kaca pembesar barangkali akan terlihat bola-bola kecil ludahan yang menempel di rambut Epi. Epi terlihat seperti orang sawan yang gagal paham apa yang terjadi.

Ia pasrah. Orang yang telah hilang gairah kiranya tak suka bertanya-tanya lagi apa yang terjadi padanya. Ia tak peduli. Sedari lama telah bertanya-tanya dan pertanyaan itu tampaknya telah sampai pada titik jenuh.

Sang pendeta yang tidak kuketahui entah kenapa dipanggil pendeta. Tersebab sejak aku membawa Epi ke pohon besar ini, aku tak mendengarnya berkata-kata selain ‘om-ah, om-ah’. Selebihnya, terdengar seperti desisan yang menguap, mungkin rahasia besar yang tidak boleh diungkap. Mungkin pula karena aku berdiri agak jauh dan seperti kata orang-orang, kata-kata dari mulut lelaki itu seperti mutiara. Ia tersembunyi dan bunyinya kecil.

Kata orang, mantra dan kata-kata penyembuh selalu terdengar puitis. Sering kali kata-kata puitis itu tidak direncanakan. Datang begitu saja. Tahu-tahu khasiatnya mujarab. Mereka bilang, kita tak perlu tahu secara detail inti dari kata-kata yang diucapkan si pendeta. Aku manut saja dengan logika semacam itu.

Selagi Epi diobati, seseorang datang. Berbaju rapi dan berambut klimis menjumpai si pendeta sambil menenteng koper. Aku menebak isi koper itu. ia mengatupkan kedua tangannya di hadapan pendeta itu dan seperti biasa, si pendeta tak berpaling. Sedikit mengangguk. Pria itu langsung mengutarakan maksudnya. Dari tempat aku berdiri, tidak kedengaran. Namun, nanti aku bisa cari tahu dari Epi, kalau saja ia sadar dengan percakapan dua orang di hadapannya.

Arsip Cerpen di Indonesia