Diserahkan kepada perempuan itu. Si Pendeta kemudian meneguk air dari kendi, berkumur-kumur. Tangan kanannya memegang kepala perempuan itu. Lalu menyemburkan ke sebuah wadah mirip kendi. Menurutku, ada air di dalamnya. Liur dan air yang bercampur, seolah ada khasiat.
Pendeta itu meniupkan angin ke atas kepala dan perempuan itu tampak syahdu menahan aroma mulut rasa sirih dan bau-bau lain yang lebih menyayat. Sewaktu kecil aku pernah dicium di pipi oleh nenekku yang rajin mengunyah sirih, dan aku tahu bagaimana rasanya. Apalagi mulut bau sirih kemudian gigi yang tak pernah merasakan bulu-bulu sikat.
Setelah ritual yang dilakukan secara bersamaan antara Epi dan kedua pendatang sebelumnya usai, pendeta itu memanggilku.
Ia memegang pundakku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dari situ aku bisa membenarkan terkaanku sebelumnya. Bau napasnya barangkali bisa membunuh seekor serangga.
“Kamu harus sering menemani temanmu dan sering-seringlah bawa ia keluar. Jangan biarkan ia seorang diri. Sendiri itu bisa menimbulkan pikiran macam-macam. Kejahatan selalu muncul dari pikiran yang kosong.”
Aku mengangguk.
“Kau lihat dua orang yang tadi datang kemari. Mereka selalu datang kemari saat hasrat dan ambisi besar tak mampu mereka kendalikan. Mereka itu penipu. Dan kau lihat sendiri apa yang kulakukan, menunjukkan hal yang sama. Mereka menyebut itu keberkatan. Aku sebut itu kedunguan.”
“Jadi Anda itu sebenarnya siapa?”
“Jangan kau tanyakan hal yang sudah kau tahu. Aku membantu orang semampuku saja. Kamu lihat caraku. Beberapa di antaranya sembuh karena sugestiku manjur. Selebihnya usaha mereka sendiri.”
Aku masih bingung.
“Ada yang aneh?” (M-2)