Dungu

Dari pohon besar itu muncul bayang-bayang, seolah batang yang paling kecil menyurut ke hadapan si pendeta seperti hendak memberikan sesuatu. Kejadian itu baru pertama kali kusaksikan dengan mata kepalaku. Tangan si pendeta meraih sesuatu dari batang yang menunduk, di sela-sela dedaunan yang rapat. Batang itu langsung kembali ke posisi semula. Dan pria rapi itu menangkupkan kedua tangannya, menerima pemberian si pendeta. Senyumnya sumringah. Senyum kemenangan.

Kaca mobil terbuka. Si istri yang glamor sedang menunggu. Mereka tampak buru-buru dan langsung meninggalkan lokasi. Epi di bawah bimbingan si pendeta terlihat mengerjap-ngerjap dan memperhatikanku.

Tatapannya seolah hendak memberitahukan sesuatu, tapi aku memilih untuk menunggu ritual si pendeta itu usai.

Tak berselang lama, datang seorang perempuan separuh baya. Jalannya seperti memaku bumi. High heels runcing yang ia kenakan membuat pantatnya terjungkal. Ia mengepit map merah. Wewangian dari tubuhnya sampai pula ke hidungku. Mesin mobil masih menyala, gaya boros orang kaya. Ia tak peduli harga besin semakin melangit, rupiah semakin dihimpit. Untuk ukuranku harus irit-irit.

Saat perempuan itu sudah di depan pendeta itu, kupikir sesi pengobatan si Epi sudah selesai. Namun, ia menyuruh Epi tetap duduk.

Perempuan itu menyerahkan map merah kepada si pendeta. Pendeta itu berkali-kali mengalihkan pandangannya antara map dan wajah perempuan itu. Kalau dibahasakan mungkin begini, “Apa-apaan ini! Memangnya aku kepala kantor, yang menunggu hasil laporanmu.”

Tak terlihat ritual mengatupkan kedua tangan seperti pendatang pertama tadi. Kupikir makam perempuan itu sudah tak bersekat. Barangkali sudah jadi langganan tetap si pendeta. Hingga kesopanan tidak dibutuhkan karena sudah terbiasa.

Perempuan itu lalu berpaling ke mobil. seorang pria yang mengenakan jas hitam dan berkacamata menghampiri sambil menenteng koper. Perempuan itu menunjuk ke arah lekukan akar pohon. Pria itu langsung meletakkan koper itu di sana. Perempuan itu tampak mengatakan sesuatu. Si pendeta hanya mengangguk tanpa berpaling. Ia masih merajah Epi yang sekali-kali curi-curi pandang ke arah mereka.

Ketika hendak kembali ke mobilnya, perempuan itu berhenti, pendeta itu memanggilnya. Satu batang pohon tiba-tiba meliuk dan menyelonjorkan batangnya yang lebat ke sisi pendeta itu. Diraupnya dedaunan lebat. Beberapa daun jatuh.

Arsip Cerpen di Indonesia