Semua jamaah masih menyimak, tapi Bu Lilis sudah merasa malas-malasan mendengarkan ceramah Ustazah Lilis, dan dia hanya membatin, “Idiiih, Ustazah Lilis tahu aja kalau saya nanti mau selfie pas di depan Ka’bah!”
“Ibu-ibu jamaah pengajian yang dimuliakan Allah. Di saat kita mampu menahan godaan dan rayuannya, kita pulang ke Tanah Air, dan setibanya di rumah, sampai berhari-hari lamanya, berminggu bahkan berbulan dan berganti tahun, kita tidak pernah menceritakan kepada orang lain bahwa kita telah melaksanakan perintah Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah. Namun, ibu-ibu sekalian, dari tahun ke tahun, ketika kita mampu untuk tidak menceritakan atau memamerkan keberangkatan kita ke tanah suci, tetapi… di tahun ke sepuluh, rupanya setan masih juga tidak ada henti-hentinya menggoda dan merayu, sampai akhirnya… kita pun tidak kuattttt, pertahanan kita untuk menyimpan rahasia ibadah haji kita ambrol oleh godaan sang setan! Akhirnya… kita bercerita, memamerkan diri di depan orang lain, tentang keberangkatan kita ke Baitullah!!! Supaya apa? Supaya orang yang belum tahu itu jadi tahu kalau kita seorang haji!!! Maka, ibu-ibu sekalian, runtuhlah apa yang sudah kita pertahankan selama itu, untuk bisa terhindar dari sifat riya! Rontok sudah keimanan kita, tersebab bujuk rayu sang setan durjana!”
Jamaah mengangguk-angguk, kecuali tentu saja Bu Susi. Menurut Bu Susi, yang sebentar lagi bakalan pergi haji, Ustazah Lilis tak pantas berceramah soal haji di depan jamaah ibu-ibu pengajian.
“Kayak pernah naik haji aja! Lagian, Ustazah Lilis nggak bakalan mampu pergi haji!” begitu gerutu Bu Susi pada jamaah pengajian lain, sampai ada ibu-ibu lain melotot karena khawatir ocehan Bu Susi terdengar Ustazah.
***
Pada pengajian berikutnya, ketika Ustazah Lilis kembali menyampaikan tentang cara-cara berhaji, Bu Susi pun mendekati Ustazah Lilis saat pengajian usai, “Ustazah… lebih baik Ustazah jangan cerita soal-soal haji di pengajian kita. Kalau saya… baru deh pantas karena sebentar lagi saya naik haji! Lagi pula pergi haji itu masih mimpi buat mereka. Ibu-ibu di sini belum tentu sanggup bayar ongkosnya. Lha, ustazah sendiri juga belum pernah naik haji, kan?”
Saat ustazah Lilis hendak menjawab, Bu Susi sudah lebih dulu pergi. Ustazah hanya bisa menghela napas panjang dan berusaha menyabarkan dirinya.
Sepulang mengaji, Bu Susi ternyata memengaruhi para tetangga, khususnya ibu-ibu yang suka mengaji pada ustazah Lilis. Bu Susi mengatakan, kalau Ustazah Lilis belum pantas menerangkan soal haji. Seperti biasa, sambil ngerumpi Bu Susi menawarkan seragam mengaji buat ibu-ibu. (Ibu-ibu pengajian suka sekali ganti-ganti utangan seragam mengaji berupa baju dan kerudung yang dianggap lagi model/trend pada Bu Susi. Terutama seragam pengajian yang suka beredar di Instagram atau FB milik Bu Susi).
Soal utangan seragam mengaji ini, Ustazah Lilis sempat menegur Bu Susi, agar tidak berjualan di dalam masjid karena tak boleh jualan di lingkungan ibadah. Boleh berjualan, tapi saat di luar lingkungan masjid. Ini membuat Bu Susi jadi merasa repot. Soalnya kalau ibu-ibu jamaah pengajian sudah bubar dari masjid, sulit ditahan untuk tidak buru-buru pulang ke rumah mereka. Hal itulah yang membuat Bu Susi jadi semakin tidak menyukai Ustazah Lilis. Sejak saat itu Bu Susi berusaha bagaimana caranya agar Ustazah Lilis tidak disukai jamaah pengajian.
***