Guru Ngaji Pergi Haji

Sebulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, saat Bu Susi kembali mengadakan pengajian untuk mendoakan kepergiannya, Bu Susi sengaja mengundang Ustazah Lilis sebagai penceramah. Tujuannya supaya Ustazah juga tahu kalau dirinya akan berangkat naik haji. Namun, pada saat Ustazah Lilis ceramah, Bu Susi mengambil alih dan menggantikannya berceramah. Karena, menurutnya, dirinya juga bisa menerangkan soal ibadah haji.

Ustazah Lilis memberikannya kesempatan, meskipun sebenarnya ada waktu lain untuk sambutan sahibul hajat. Para jamaah pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan mendengarkan ungkapan Bu Susi soal pengalaman bagaimana dia bisa punya uang untuk ongkos ke Mekah.

Selepas pengajian itu, beberapa hari kemudian Bu Susi jatuh sakit. Bu Susi mencoba menguatkan diri bahwa dia sehat-sehat saja, tetapi semua orang tak bisa dibohongi. Bu Susi jadi takut dan khawatir tak jadi berangkat haji. Saat periksa kesehatan, Bu Susi hendak berbohong, merahasiakan kesehatannya pada dokter. Pak Galih menasihati Bu Susi, “Bu, kita ini mau berangkat haji, mau ibadah. Kenapa harus bohong..?”

“Tapi, Pak…”

“Ingat Bu. Ibadah haji itu ibadah fisik. Jangan main-main. Nanti malah menyusahkan.”

Dua minggu sebelum keberangkatan, sakit Bu Susi makin parah. Dokter bingung dengan penyakit Bu Susi. Keluarga Bu Susi nyaris putus asa. Menurut hasil lab, Bu Susi dikatakan sehat-sehat saja. Tapi, hampir setiap malam Bu Susi merasakan sesak napas.

Sementara itu, Ustazah Lilis diliputi rasa sedih. Hal yang manusiawi meskipun dia seorang Ustazah yang kerap membimbing jamaahnya, memiliki keinginan untuk menyempurnakan rukun islam kelima, ibadah haji ke ranah suci Makkah. Ustazah ingin sekali berangkat haji, tetapi ia menyadari kalau dirinya tak akan mampu membiayai ongkos haji. Suaminya hanya seorang guru honorer bergaji pas-pasan.

Mendengar curhat Ustazah Lilis, suaminya menguatkan agar Ustazah Lilis tetap istiqamah. “Ingat Bu, ibu sendiri yang bilang, kalau Allah berkehendak, tak ada hal yang mustahil.” ujar suami Ustazah.

Ustazah Lilis pun istighfar dan memohon ampun pada Allah. Ustazah Lilis akhirnya berdoa semoga dirinya memiliki kesempatan untuk bisa datang memenuhi panggilan haji ke Tanah Suci Makkah.

***

Setelah puluhan dokter angkat tangan, dan penyakit tak juga sembuh, akhirnya Bu Susi dibawa ke pesantren atas usul salah satu anaknya yang mondok di sana. Anaknya bilang, salah satu kiai di pondok sesekali didatangi orang untuk berobat. Bukan obat secara medis, melainkan biasanya mendapat semacam obat rohani. Sang kiai di pesantren tempat anak Bu Susi mondok mengatakan, penyakit Bu Susi ini mudah sekali diobati. Tetapi, bukan Pak Kiai yang bisa mengobatinya. Ada seorang ustazah yang dapat menyembuhkannya!

Arsip Cerpen di Indonesia