Ia sedikit menarik lidahnya yang sedari sebelumnya sudah tergoda tahu pedas, menelan liurnya yang getir, melewati tenggorokannya yang kering, hingga purna jadi rasa pahit. Dan tangannya dengan pelan dan lemas, kembali memasukkan uang lima ribu ke dalam tasnya.
“Aduh! Sekarang sudah pukul sembilan,” ucap Mak Su panik. Wajahnya berubah tegang. Ia mengikat pangkal batang payung pada sepacak bambu, lalu merapikan barang dagangannya, mengikat kembali dengan tali penutup warna putih. Hujan deras kembali. Dingin menjarum kulit. Mak Su gemetar. Bibirnya terlihat memutih.
Beberapa petugas pasar berpakaian lengkap datang tepat waktu, seperti hari-hari sebelumnya. Mereka mengusir para pedagang di sekitar area pintu agar segera pindah. Berkalikali membentak dan menendangnendang barang dagangan milik penjual. Wajahnya garang, matanya setajam elang.
“Sekarang sudah lewat pukul sembilan. Kenapa kamu masih di sini? Ayo cepat pergi!!” salah satu petugas pasar memukulkan tongkatnya ke palasa Mak Su.
“Iya, Pak! Sebentar. Saya akan beres-beres dulu,” jelas Mak Su sambil mengikat kembali barang dagangannya setelah dibungkus plastik. Ia abaikan punggungnya diderai hujan, demi menuruti perintah petugas pasar. Si petugas pasar hanya memperhatikan Mak Su dengan berkacak pinggang. Wajahnya terlihat sangat tidak sabar.
“Sebentar, Pak. Saya minta bantuan teman dulu,” pinta Mak Su dengan tangan menangkup.
“Cepat!!” sebuah tendangan mengenai salah satu wadah dagangannya hingga sobek. Beberapa buah mentimun bergulir ke luar. Melabuhi paving berlumpur. Mak Su melihat semua itu dengan dada renyuh. Jiwanya menangis.
“Oh, nasib rakyat kecil,” ia membatin. Bersamaan ketika dirinya berlari menerobos hujan ke seberang jalan, membiarkan seluruh tubuhnya basah.
“Kang Har! Kang Har! Ayo!” panggilnya ke segerombolan lelaki yang sedang ngopi di sebuah warung. Seorang lelaki paruh baya menoleh, kemudian bangkit setelah menghabiskan kopinya dengan seruputan yang agak lama.
Mak Su balik ke tempat ia mangkal dengan berlarilari pelan membelah hujan. Lelaki itu mengikutinya dari belakang sambil menenteng pikulan bambu, bibirnya masih ditancap sebatang rokok yang mengepulkan asap memburai.
Setelah memunguti timuntimun yang jatuh, Mak Su menyunggi satu wadah di atas kepalanya. Sedang lelaki itu memikul empat wadah yang disusun dengan pikulan bambu. Keduanya beranjak meninggalkan area pintu masuk pasar dengan langkah yang lemas.