Mak Su Memanggul Takdir Sendirian

Dagangan Mak Su sudah dibuka. Ia duduk menunggu pembeli, sambil mengipas tubuhnya dengan selembar sobekan kardus agar pakaiannya cepat kering. Beberapa kali ia menawarkan dagangannya kepada orangorang yang lewat di depannya. Tapi, tak seorang pun pembeli yang mendekat, kecuali hanya menoleh, ada yang tersenyum, ada yang menatap sinis.

Hujan masih deras, suasana seperti masih pagi meski sebenarnya sudah zuhur. Mak Su kadang menguap didera ngantuk. Masih tak ada pembeli di tempat itu. Tangannya selalu meremas tasnya yang masih kempes. Matanya kian redup, terlebih saat ia melihat dagangannya seperti mau busuk.

Dan yang paling tak permah Mak Su sangka, siang itu pemilik swalayan seketika bersikap kasar. Ia bersama dengan dua lelaki kekar mengobrak-abrik dagangan Mak Su hingga bertaburan di lantai. Dua lelaki kekar itu menginjak-injak dagangan itu sebelum akhirnya membuangnya ke dalam sak.

Mak Su menangis histeris sambil meronta-ronta. Orang-orang berkerumun melihatnya.

“Oh! Nasib rakyat kecil!” teriak Mak Su.

“Sudah kuingatkan berkalikali agar tidak berjualan di sini, tapi kamu maksa!” bentak lelaki pemilik swalayan. Akhirnya Mak Su pulang diantar Bakar menaiki becak hingga di rumahnya. Sepanjang perjalanan mulut Bakar tak henti membujuk Mak Su agar mau jadi istrinya, tapi Mak Su tak hirau, kepala dan dadanya sudah  terlalu sakit.

“Oh! Nasib rakyat kecil!” batinnya.

Malam harinya, ketika air mata Mak Su kering, ketika hanya menyisakan kelopak yang membengkak, ia berusaha membuang segala keresahan dengan berkumpul dengan anak-anaknya. Di bawah cahaya lampu neon yang sudah redup, mereka bercakap banyak hal.

“Sisil besok ingin beli bakso, Bu! Seperti teman Sisil si Maya.”

“Farhan juga ingin beli, Bu.”

“Zainab juga, Bu. Zainab dan adik-adik kan sudah lama tidak dikasih uang saku. Hari ini Ibu pasti membawa uang yang banyak dari pasar. Iya kan?”

Air mata Mak Su kembali menetes. Sepasang bibirnya terkatup rapat. Giginya terdengar bergemeretak. Tiga anaknya memandanginya dengan wajah yang cemas.

“Oh. Nasib rakyat kecil!” gumamnya pedih.

 

A Warits Rovi. Buku cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018)

Arsip Cerpen di Indonesia