“Besok sebelum pukul sembilan harus beres,” suara kasar petugas pasar kembali meledak. Mak Su mengangguk, ia lalu melangkah, menerobos hujan, kakinya yang telanjang membelah air, menimbulkan bunyi kecipak. Lelaki paruh baya itu mengikutinya dari belakang. Sesekali terdengar bunyi derit pikulan di bahunya.
Setiap hari, ketika waktu menunjukkan pukul sembilan, ia dan rekan-rekan lainnya sesama pedagang kaki lima, harus pindah dari lokasi depan pintu masuk. Padahal semua pedagang mengimpikan berada di situ seharian karena ramai dilewati orang-orang.
Setiap pukul sembilan tiba, Mak Su akan pindah berjualan di luar pasar, tepatnya di depan sebuah swalayan. Ia rela membayar jasa kepada lelaki itu setiap hari untuk bisa mengangkut dagangannya ke tempat itu. Dan hanya lelaki itu satu-satunya penyedia jasa angkut barang dengan pikulan di pasar itu, sehingga Mak Su harus rela minta bantuan lelaki itu meski ia kerap usil dengan memegang pantat atau pipi Mak Su.
“Ini, Kang Har. Terima kasih ya,” Mak Su mengulur selembar uang.
“Aduh, kalau hari ini harus lima ribu, Neng. Aku kan harus kehujanan, hehe,” jawab lelaki itu dengan lirikan menggoda.
“Maaf, Kang! Jualan saya hanya laku dua kilo, terima saja, Kang!”
“Pokoknya, jika tidak lima ribu, aku minta ganti pipi, hehe.”
Mak Su menghela napas panjang, ia tak mau lelaki itu usil. Segera ia merogoh tasnya, mengeluarkan lembar uang satusatunya, lima ribu rupiah. Ia memberikan uang itu kepada si lelaki dengan wajah yang muram.
“Terima kasih banyak ya!” lelaki itu menepuk-nepuk bahu Mak Su, sebelum akhirnya pergi, berlari-lari pelan melintasi rinai hujan sambil menyeberang jalan. Mak Su menatap lekat lelaki itu yang sudah jauh ada di seberang, mengelap baju basahnya dengan telapak tangan. Mak Su kembali menangis, seperti derai hujan. Tangannya meremas tasnya yang kempes.
Mak Su kemudian menata dagangannya di depan swalayan. Menggeser -nya satu demi satu. Wajah Mak Su semendung langit, matanya tampak menyipit, palasa beberapa kali ia melihat ke sana kemari, seperti mengamati sesuatu.
Sebenarnya hati Mak su sangat risau berada di tempat itu, selain pembeli sedikit, ia juga sering digoda lelaki tukang becak bernama Barka. Sudah beberapa kali Barka datang kepada Mak Su, wataknya hampir sama dengan lelaki yang memikul dagangannya saat pindah dari pasar. Ia juga sering usil kepada Mak Su. Kadang ia menemani Mak Su hingga Mak Su pulang. Kadang berpura-pura baik dengan membantu memijat leher Mak Su, atau kadang membawakan Mak Su makanan, tapi dia yang menyuapinya. Jika Mak Su menolak, lelaki itu akan membentak dan mengancam. Maka Mak Su tak bisa berbuat banyak, selain mengikuti alur yang dikehendaki lelaki itu, sambil melindungi diri. Sebab Mak Su sadar, sejak ditinggal mati suaminya, ia harus menjalani jalan takdir yang terjal di antara petugas pasar yang galak dan dua lelaki usil itu.