Aku tidak menutup mata dalam hal ini. Gadis itu memang berwajah artis. Masih muda lagi. Kalau saja mau nekat, aku yakin dia pasti bisa menjadi apa saja. Menjadi SPG, menjadi model, atau bahkan menjadi artis papan atas. Hanya saja, mungkin dia tidak menyadari potensi dirinya, hingga tetap menikmati nasibnya sebagai penjual hujan yang tak pernah menjanjikan masa depan yang cerah.
Di pasar tradisional ini, nasibku sebenarnya tak jauh beda dengan gadis itu. Aku juga tidak menjadi apa-apa, selain menjadi tukang becak. Setiap hari aku harus menunggu penumpang, bersaing dengan tukang becak lain di pangkalan.
Aku lebih sering mengalah, membiarkan penumpang berlalu begitu saja, lalu memilih tukang becak lain yang lebih dulu mangkal. Kupikir rezeki sudah ditakar oleh Tuhan, hingga aku tak perlu memaksa orang lain untuk jadi penumpang.
Aku sebenarnya tidak ingin menjadi tukang becak. Sejak SMP, aku sudah bercita-cita menjadi insinyur. Aku bahkan tak mampu melanjutkan kuliah. Setelah lulus SMA, aku diminta ayah yang sudah uzur untuk meneruskan pekerjaannya sebagai tukang becak. Kini, ayah sudah tiada, meninggalkan aku dan ibu yang hidupnya tidak jauh-jauh dari dapur.
Tidak seperti di zaman ayah, menjadi tukang becak di era melenial ini tidak mudah. Dari hari ke hari, aku semakin susah mendapatkan penumpang. Penumpang-penumpang itu seakan tak mau lagi memakai jasaku. Mereka lebih suka menumpang angkot, ojek, atau becak lain yang sudah diinovasi menjadi becak motor. Ya, kumaklumi, barangkali mereka ingin lebih cepat sampai tujuan.
Bagaimanapun keadaanku, aku tak pernah mengeluh. Saat benar-benar tak mendapatkan penumpang, aku hanya menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap bermimpi apa saja. Kupikir aku memang ditakdirkan sukses di dalam mimpi saja. Bebas dan merasa bahagia di alam mimpi saja.
Sejak gadis itu hadir dan memilih tempat berjualan tak jauh dari tempatku mangkal, aku jadi tak suka tidur. Keberadaannya sudah cukup membuatku terjaga dan terhibur.
Gadis itu biasa datang pagi-pagi, diantar mobil pikap yang baknya memuat jeriken-jeriken penuh air. Bersama sang sopir, gadis itu lantas menurunkan jeriken-jeriken itu, lalu menatanya tepat di sisi jalan masuk pasar. Tak jarang aku membantunya jika kebetulan belum dapat penumpang. Begitu usai, gadis itu tak pernah lupa mengucapkan terimaksih yang dilambari senyum yang membuai.
Minggu-minggu berlalu dan kami semakin akrab. Keakraban kami berbeda dari yang lain. Keakraban kami hanya sebatas sapaan mata dan senyum. Selebihnya kami tak saling tahu siapa nama dan di mana tempat tinggal masing-masing. Kami seperti sepasang muda-mudi yang ditakdirkan selalu bertemu, tapi tak pernah tahu perasaan satu sama lain.