Akhirnya aku tetap di luar dan memilih pulang setelah tak ada yang bisa kulakukan, selain ikut meneteskan air mata. Aku telah berjanji tak akan meninggalkannya. Aku akan membantunya mencarikan biaya untuk perawatan dan pengobatan ayahnya yang kuyakin tidaklah murah. Biarlah sementara hari-hariku berlalu dengan berat, asalkan gadis itu kembali ceria dan ayahnya sembuh seperti sediakala.
Mula-mula, aku mencari sebanyak mungkin penumpang. Meski kutahu saat ini becak bukan lagi menjadi rebutan. Ongkos-ongkos yang kudapat kukumpulkan, hingga mencapai target yang kuinginkan. Kubayangkan bagaimana bahagianya gadis itu mendapatkan bantuan biaya untuk kesembuhan ayahnya. Dia pasti tak henti-henti berucap syukur kepada Tuhan, juga berterimaksih padaku yang masih sempat memberinya perhatian.
Aku salah. Begitu uang yang terkumpul kuserahkan padanya, gadis itu menolak dengan halus. Hal yang membuatku terperanjat. Dia malah buru-buru pergi, dijemput sebuah mobil mewah yang pemiliknya pernah memborong hujan-hujan jualannya tempo hari.
Kota Ukir, 2019.