Aku bukan tipe pemuda yang egois. Demi kesuksesannya, diam-diam aku selalu berdoa pada Tuhan agar hujan-hujan yang dijualnya laris-manis. Doaku ternyata terkabul. Dari hari ke hari, para pembeli semakin berdatangan, memborong satu, dua, atau bahkan tiga jeriken hujan. Melihat itu aku jadi makin bahagia meski hubungan kami belum juga mendapatkan kepastian.
Gadis itu semakin sibuk saja. Dia bahkan tak memiliki waktu untuk sekadar menoleh ke arahku. Aku tak pernah sakit hati dan memang tak perlu sakit konyol begitu. Sebab aku sadar dia bukan siapa-siapa aku. Lagi pula ia hanya melayani pembeli. Selebihnya dia tak peduli meski banyak pemuda, bahkan om-om berduit suka menggodanya.
Aku semakin yakin bahwa gadis itu hanya suka padaku. Dia selalu mengulas senyum setiap kali datang dan mau pulang. Senyum itu hanya ditujukan untukku, bukan yang lain.
Pada suatu hari, dia tiba-tiba menampakkan wajah yang lain. Wajah yang tanpa senyum. Aku tak tahu, apa yang telah menimpanya, hingga keceriaan di wajahnya hilang, berganti kemuraman?
Diam-diam aku membuntutinya ketika suatu sore dia pulang buru-buru. Mula-mula dia dijemput sebuah mobil pikap seperti biasa. Dibawa melintasi jalan-jalan bercabang, melewati toko-toko dan gedung-gedung bertingkat, hingga akhirnya memasuki sebuah halaman gedung rumah sakit. Kupikir telah terjadi sesuatu yang buruk dengan keluarganya. Entah ayah atau ibunya yang jatuh sakit. Aku tak ingin hanya berkutat dengan dugaan-dugaan. Aku harus tahu kenyataan.
Aku segera meninggalkan ojek setelah menyerahkan ongkos seperti yang dia minta. Kulihat gadis itu mulai memasuki rumah sakit dan aku tetap mengikutinya diam-diam. Dia menorobos kerumunan. Melintasi kamar demi kamar, hingga akhirnya menyelinap ke sebuah kamar.
Hanya dihuni oleh sepasang manusia berusia paruh baya. Seorang laki-laki yang tergolek lemah di atas ranjang dengan tubuh dililit selang infus dan seorang perempuan menunggu di sisinya dengan wajah cemas dan sepasang mata sembab.
Di luar pintu, aku sempat menyaksikan bagaimana gadis itu menyambar lelaki yang kuyakin adalah ayahnya. Dia menangis tersedu sambil bergumam dengan bahasa yang tak bisa kutangkap dengan jelas.
Lelaki itu hanya diam membisu dengan sepasang mata yang tetap terpejam. Hanya perempuan itu yang semakin merapat, menenangkan. Aku ingin sekali ada di sisinya, mengusap dan membelai-belai kepalanya. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa mereka.