“Kamu telah mengutak-atiknya!” Tuduh sang ustad langsung. “Saya benar-benar akan laporkan ini ke pihak berwajib!” bentaknya lagi sambil berlalu.
Pihak masjid dan petugas CCTV-nya kemudian benar-benar berurusan dengan pihak kepolisian. Dan seperti sebelumnya, kejadian sandalnya yang tetap saja hilang di masjid yang memiliki CCTV, di mana pun, kapan pun, terus saja berulang dalam bentuk yang sama: peristiwa pencurian sandal termasuk siapa pencurinya yang tidak terekam. Berulang-ulang pula pihak masjid bersama petugas CCTVnya berurusan dengan pihak kepolisian.
***
Ustad Buya berpikir bahwa ia sudah tidak mau lagi jadi ustad. Ia bermaksud berhenti saja. Mungkin itulah satusatunya cara agar tidak berurusan lagi dengan masalah sandal hilang. Ia sudah tidak inginlagi berhadapan dengan masalah yang itu ke itu terus. Ia tidak tahan lagi. Memang lebih baik berhenti, batinnya. Menurutnya, sama sekali dirinya tidak rugi kalautidak lagi jadi ustad. Apalagi ia memang tidak pernah mengeluarkan biaya apa pun untuk menjadi ustad. Pikirannya menerawang mengenang masa-masa awal ia dipanggil ustad dulu.
Menjadi ustad memang bukanlah keinginan dirinya. Orangtuanyalah yang sangat menginginkan. Karena itu sejak dilahirkan, ia langsung diberi nama Buya, lengkapnya Buya Limo. Dengan nama itu kedua orangtuanya berharap anaknya kelak tidak saja menjadi penegak tiang agama yang lima waktu tetapi sekaligus juga dapat menjadi ulama yang biasa dipanggil Buya. Karena itu pula sejak ia menjadi ustad, ia dipanggil Ustad Buya, lengkapnya Ustad Buya Limo. Ustad menunjukkan ia sebagai ulama, dan Buya Limo adalah namanya. Jadi panggilan itu bukan berlebihan karena memang begitu adanya.
Akan tetapi ia tetap tidak punya minat jadi ustad walaupun bernama Buya dan meskipun pengetahuan agama juga ia miliki sebagaimana anak-anak di lingkungannya. Ia menjadi ustad malah kebetulan saja. Karena namanya Buya dan dipanggil demikian, lingkungannya kemudian seperti benar-benar menganggapnya berprofesi seorang buya atau ustad yang memiliki pengetahuan dan kemampuan agama yang lebih dibanding orang kebanyakan. Suatu saat orang memintanya menjadi imam sholat di mushalla dan ia melakukannya. Saat berikutnya orang memintanya mengisi ceramah menggantikan ustad yang tidak datang, ia melakukannya. Sejak itulah ia menjadi ustad yang diundang ke beberapa tempat baik mengisi ceramah, atau khotbah masjid, maupun menjadi imam.
Dia sebenarnya merasa tidak ada apaapanya selain sekedar memiliki sedikit pengetahuan dan kemampuan agama untuk dirinya sendiri. Barangkali tambahannya hanya sekedar hasil-hasil bacaan dari buku-buku. Sekolah pesantren apalagi kuliah agama pun ia tidak. Tapi begitulah. Ia selalu diminta ke sana dan ke mari, masjid sana dan sini, untuk berkhotbah, berceramah, dan termasuk menjadi imam.